Memberikan wawasan, menumbuhkan harapan, tanpa gangguan iklan.
Berani coba? Dapatkan Gratis
Mohamad Burhanudin
Pemerhati Kebijakan Lingkungan

Penulis lepas; Environmental Specialist Yayasan KEHATI

Tantangan Jokowi dan Ironi Riset RI

Kompas.com - 10/02/2020, 20:12 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DALAM pidatonya pada Rapat Koordinasi Nasional tentang Integrasi Riset dan Inovasi Indonesia di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), (Kompas, 31/01/2020), Presiden Joko Widodo meminta agar dunia riset tak sekadar menghasilkan dokumen laporan. Riset dan inovasi, pinta Presiden, harus mampu turut menyelesaikan persoalan bangsa.

Di satu sisi, pernyataan Kepala Negara tersebut merupakan tantangan bagi dunia riset di negeri ini agar lebih berperan bagi kemajuan bangsa.

Namun, di sisi lain, pernyataan tersebut menghadirkan ironi jika melihat bahwa riset masih marginal dalam kebijakan nasional.

Arti penting riset bagi kemajuan bangsa dari waktu ke waktu semakin signifikan. Ini ditandai dengan kesadaran akan arti penting riset yang bertumbuh pesat di banyak negara di dunia.

Jumlah belanja penelitian dan pengembangan (litbang) global pada tahun 2017 mencapai 2 triliun dollar AS (OECD, 2017). Angka tersebut melonjak tiga kali lipat dibanding belanja litbang global tahun 2000 yang sebesar 676 miliar dollar AS.

Perubahan ekonomi global yang semakin bergantung pada pengetahuan, khususnya ditandai oleh perkembangan sektor jasa dan digitalisasi, menentukan peran sentral litbang bagi kemajuan.

Berbagai studi menunjukkan bahwa kenaikan anggaran litbang suatu negara mendorong naiknya angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Ini seperti studi yang dilakukan Gocer (2013) di 11 negara berkembang di Asia yang menemukan, kenaikan 1 persen belanja litbang di negara yang diteliti mendongkrak kenaikan ekspor teknologi tinggi hingga 6,5 persen, ekspor teknologi komunikasi informasi 0,6 persen, dan pertumbuhan ekonomi 0,43 persen.

Sementara itu, studi yang dilakukan oleh Akcali dan Sismanoglu (2015) di 19 negara menemukan, kenaikan 1 persen belanja litbang mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi 1 persen di negara-negara maju, serta 0,3 persen-0,62 persen di negara berkembang.

Meningkatkan nilai invensi dan inovasi berarti memperbarui sains dan teknologi yang memberikan keuntungan dan daya tahan (endurance) ekonomi dan sosial.

Invensi dan inovasi adalah syarat bagi negara untuk menjamin penciptaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kesejahteraan sosial dan perbaikan kualitas hidup.

Anggaran litbang terhadap PDB berkorelasi dengan kemajuan. Secara konsisten, negara-negara dengan belanja litbang tertingi, seperti Korea Selatan, Israel, Swiss, Jepang, Finlandia, dan Amerika Serikat, merupakan negara-negara maju.

Pendanaan penelitian di Indonesia

Meskipun PDB Indonesia tercatat paling tinggi di antara negara-negara ASEAN, proporsi belanja untuk sektor penelitian masih tergolong rendah, yaitu 0,2 persen dari PDB.

Bahkan, menjadi yang terendah dibanding beberapa negara tetangga yang memiliki PDB jauh lebih kecil, seperti Singapura (2,2 persen), Malaysia (1,4 persen), Thailand (1 persen), dan Vietnam 0,5 persen) (Bank Dunia, 2018).

Akibatnya, di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar keluar dari bayang-bayang jebakan negara berpendapatan menengah, sektor penelitian dan inovasi di Indonesia belum dapat berkontribusi signifikan.

Pengalaman baca menyeluruh tanpa iklan.
Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com