Tantangan Jokowi dan Ironi Riset RI

Kompas.com - 10/02/2020, 20:12 WIB
Pengunjung bermain bola melayang yang dipamerkan dalam Pameran Inovasi Puspitek 2019 di kawasan Puspitek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (3/10/2019). Ragam inovasi dan purwarupa teknologi hasil karya badan-badan riset yang berkantor di Puspitek maupun hasil penelitian mahasiswa dipamerkan dalam pameran yang berlangsung hingga 6 Oktober 2019. Kegiatan ini berfungsi untuk mempromosikan kapasitas sumber daya ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di Tanah Air. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANPengunjung bermain bola melayang yang dipamerkan dalam Pameran Inovasi Puspitek 2019 di kawasan Puspitek, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (3/10/2019). Ragam inovasi dan purwarupa teknologi hasil karya badan-badan riset yang berkantor di Puspitek maupun hasil penelitian mahasiswa dipamerkan dalam pameran yang berlangsung hingga 6 Oktober 2019. Kegiatan ini berfungsi untuk mempromosikan kapasitas sumber daya ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di Tanah Air.

Invensi dan inovasi adalah syarat bagi negara untuk menjamin penciptaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kesejahteraan sosial dan perbaikan kualitas hidup.

Anggaran litbang terhadap PDB berkorelasi dengan kemajuan. Secara konsisten, negara-negara dengan belanja litbang tertingi, seperti Korea Selatan, Israel, Swiss, Jepang, Finlandia, dan Amerika Serikat, merupakan negara-negara maju.

Pendanaan penelitian di Indonesia

Meskipun PDB Indonesia tercatat paling tinggi di antara negara-negara ASEAN, proporsi belanja untuk sektor penelitian masih tergolong rendah, yaitu 0,2 persen dari PDB.

Bahkan, menjadi yang terendah dibanding beberapa negara tetangga yang memiliki PDB jauh lebih kecil, seperti Singapura (2,2 persen), Malaysia (1,4 persen), Thailand (1 persen), dan Vietnam 0,5 persen) (Bank Dunia, 2018).

Akibatnya, di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar keluar dari bayang-bayang jebakan negara berpendapatan menengah, sektor penelitian dan inovasi di Indonesia belum dapat berkontribusi signifikan.

Rendahnya proporsi anggaran penelitian dari PDB Indonesia menunjukkan bahwa penelitian masih marginal dalam kebijakan nasional.

Saat negara-negara maju dalam dua dekade terakhir mendorong belanja penelitiannya menjadi di atas kisaran 2 persen hingga 4,5 persen--negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, bahkan sudah beberapa tahun terakhir menganggarkan belanja penelitiannya di atas kisaran 1 persen--belanja litbang Indonesia sejak lebih dari 20 tahun terakhir berkisar antara 0,1-0,2 persen dari PDB.

Dalam studi mengenai penyelenggaraan pendanaan penelitian di Indonesia (2019), Akademi Ilmuwan Muda Indonesia menemukan, ada enam akar permasalahan dalam pendanaan penelitian di Indonesia.

Pertama, terjadi kekacauan data penghitungan belanja litbang nasional. Dari Rp 24,92 triliun dana riset dari pemerintah pusat tahun 2016 hanya 43,74 persen yang digunakan sebagai dana untuk penelitian.

Selebihnya untuk operasional, jasa iptek, belanja modal, dan pendidikan pelatihan (diklat). Artinya, sesungguhnya dana litbang jauh lebih kecil dari 0,2 persen.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X