Nadiem Minta Pemerintah Daerah Gali Keunikan Daerah untuk Ditawarkan ke Wisatawan

Kompas.com - 02/03/2020, 08:00 WIB
Sejumlah warga bermain Perisaian di Dusun Adat Ende, Desa Sengkol, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (17/11/2018). Dusun adat Ende merupakan salah destinasi wisata budaya di Lombok Tengah yang menyuguhkan wisata kehidupan masyarakat adat Sasak lengkap dengan atraksi budaya tradisional seperti musik tradisional Genggong, Gendang Beleq, dan Perisaian. ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDISejumlah warga bermain Perisaian di Dusun Adat Ende, Desa Sengkol, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (17/11/2018). Dusun adat Ende merupakan salah destinasi wisata budaya di Lombok Tengah yang menyuguhkan wisata kehidupan masyarakat adat Sasak lengkap dengan atraksi budaya tradisional seperti musik tradisional Genggong, Gendang Beleq, dan Perisaian.

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, mengimbau para pemangku kepentingan mengubah paradigma budaya, dengan menggali potensi yang dimiliki masing- masing daerah, baik alam maupun trandisi.

Rancang rencana perjalanan yang akan memberikan pengalaman unik bagi para wisatawan.

“Kalau fokusnya memang itu adalah kekayaan alam yang sudah ada, perencanaan lima hari berkunjung itu ya harus ada fokusnya bagaimana kita mencari pemandu yang terbaik untuk bisa menemukan yang ciri khas Indonesia seperti burung, atau saat melakukan diving yang paling efektif untuk memastikan bahwa setiap kali datang keliatan ada ubur-ubur dan lain-lainnya terutama yang unik-unik itu, jadi fokusnya itu kepada experience nya,” kata Nadiem dalam siaran pers yang diterima KOMPAS.com.

Tradisi yang ditawarkan kepada wisatawan, kata Nadiem, harus partisipatif, bukan hanya berupa pertunjukan melainkan tradisi yang bisa dilakukan oleh wisatawan.

“Bagaimana mereka kalau misalnya memasak. Apa tradisi sehari-hari mereka hidup dengan alam itu yang sebenarnya menjadi satu hal yang sangat menarik jangan lupa tradisi itu bukan hanya tarian dan nyanyian. Budaya itu juga bukan hanya tarian dan kostum. Budaya adalah apa yang kalau orang lain mengetahui mengenai cara mereka hidup itu akan mengagetkan atau membuat kagum,” jelas Nadiem.

Baca juga: Kabupaten Gianyar, Denyut Wisata Budaya di Bali

Pengemasan budaya, menurut Nadiem, merupakan kunci dari pemasaran. Pemerintah daerah tidak lagi perlu menggelontorkan dana yang banyak untuk memasarkan budaya yang mereka miliki, tetapi dapat memaksimalkan penggunaan media sosial untuk menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Dengan adanya strategi promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) justru akan lebih maksimal.

Word of mouth adalah orang yang datang ke situ yang saking bagusnya, saking serunya dia posting di instagram atau di facebook. Itulah satu-satunya marketing yang efektif untuk tourism and tour. Mau diiklankan sebanyak apapun, itu namanya bakarin duit yang bakal paling efektif uang diciptakan ditekankan untuk experience paling wow di masing-masing daerah. Saya yakin tanpa spesialis marketing, setiap orang yang datang, ada marketing atau tidak ada marketing pasti akan ada orang yang datang juga. Orang itu pasti pegang smartphone orang-orang itu semakin senang di experience, dia akan menyebarkan informasi lewat posting medsos,” jelas Nadiem.

Di samping itu, Nadiem menyampaikan bahwa ke depannya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan terus menggerakkan program-program, dimana para pemangku kepentingan melakukan presentasi, seleksi, dan refleksi.

Nadiem meminta agar dengan adanya kebijakan Kampus Merdeka, para pemangku kepentingan mengikutsertakan mahasiswa dalam memajukan budaya.

Baca juga: Wisata Budaya dan Panorama Toraja

“Terpenting bagi pekerja di bidang kebudayaan, Kalau anda desainer, kreator, anda punya sanggar dan lain-lain, jangan lupa yang terjadi di dunia pendidikan yaitu kampus merdeka. Kampus merdeka baru saja membebaskan sampai dengan 3 semester S1 di mana mahasiswa boleh melakukan project yang experiential di luar kampus. Artinya anak-anak sekarang bisa mengambil 6 bulan 20 SKS full kalo programnya di-approve oleh Kemendikbud, misalnya ada program pengembangan daerah ada 6 bulan project untuk mahasiswa. Kalau Kemendikbud approve, semua universitas bisa meng-apply. Kalau mahasiswa itu diterima, dia bisa 6 bulan penuh terlibat dan mendapatkan full credit,” pungkas Nadiem.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X