Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito: Virus Corona Tak Mematikan, Lebih Berbahaya Virus Hoaks Corona

Kompas.com - 04/03/2020, 21:21 WIB
Simulasi penanganan pasien terinfeksi virus corona di RAUD Margono Soekarjo Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020). KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAINSimulasi penanganan pasien terinfeksi virus corona di RAUD Margono Soekarjo Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020).

KOMPAS.com - Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD-KP mengatakan masyarakat tak perlu panik virus corona sesungguhnya tak mematikan. Ia menilai virus Hoaks lebih berbahaya daripada virus corona.

Dr. Ika menyampaikan hal tersebut dalam kuliah mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Program Studi Profesi Apoteker bertema Tentang Corona Virus dan Penanganannya.

Menurut Dr. Ika, virus corona pernah menjadi wabah dunia dengan tiga jenis yang dikenal selama ini, yaitu SARS-Cov, MERS-Cov dan COVID-19.

SARS muncul tahun 2002 di China dan Hongkong, kemudian MERS muncul tahun 2012 dan di akhir tahun 2019 menyusul COVID-19. SARS-Cov jumlah kasusnya mencapai 8.098, meninggal dunia 774 orang dan Case Fatality Rate 9,6 persen.

MERS-Cov yang terjangkit lebih sedikit yaitu 2.494, tetapi angka kematian cukup tinggi 858 sehingga Case Fatality Ratenya 34,4 persen. Sementera, COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981.

Angka kematian ini terlihat sangat tinggi, tetapi bila dibandingkan dengan jumlah kasusnya maka Case Fatality Rate-nya hanya 3,4 persen. Untuk diketahui, Case Fatality Rate merupakan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tertentu pada periode waktu tertentu dibagi jumlah kasus dari penyakit tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Oleh karena itu, tidak usah terlalu panik, kita memiliki data atau bukti ilmiah. Artinya apa virus ini tidak mematikan, namun memang mudah menular," kata Dr. Ika seperti dikutip dari laman ugm.ac.id.

Baca juga: Akademisi UGM: Perilaku Hidup Sehat adalah Kunci Pencegahan Corona

Dari data yang ada, lanjut Dr. Ika, yang terpenting soal COVID-19 ini adalah identifikasi kasus apakah ia importir case atau local transmission. Ia memberi contoh di Pakistan. Di sana, banyak kasus merujuk pada importir case artinya kasus-kasus yang muncul akibat virus dari luar masuk ke dalam.

Dr. Ika mengakui angka kematian di luar China paling banyak di Korea, Jepang, Philipina, Italia, Perancis, Iran dan di kapal Diamond Princess. Angka kematian terbesar di China karena endemis dan virusnya sangat mudah menular.

“Dari data banyaknya pasien-pasien yang meninggal karena sebelumnya telah memiliki penyakit-penyakit yang lain. Jadi, sebelum terkena corona, sebelum terkena Covid, ia sudah sakit, semisal jantung, gagal ginjal, gagal liver dan lain-lain dan usianya sudah lanjut," terang Dr. Ika.

Sementara itu, untuk pasien-pasien yang berusia muda angka kematiannya sangat kecil. Mereka yang dalam kategori usia produktif ini umumnya memiliki daya tahan yang masih bagus.

“Virus ini sangat bergantung pada ketahanan tubuh. Jadi, yang meninggal karena ia punya penyakit kronis yang lain dan telah berusia lanjut," imbuh Dr. Ika.

Lebih bahaya virus hoaks daripada virus corona

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.