Mereparasi Mutu Pendidikan Dasar Kita

Kompas.com - 08/03/2020, 14:11 WIB
Pelatihan guru dilakukan Gernas Tasaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) kepada guru SD sekitar Sumba Timur dikoordinasi MPS (Masyarakat Pendidikan Sejati) pimpinan Gde Raka, dosen di ITB (28-29/2/2020) DOK. GERNAS TASAKAPelatihan guru dilakukan Gernas Tasaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) kepada guru SD sekitar Sumba Timur dikoordinasi MPS (Masyarakat Pendidikan Sejati) pimpinan Gde Raka, dosen di ITB (28-29/2/2020)

KOMPAS.com - Sejak awal saya curiga sumber buruknya mutu pendidikan di Indonesia yang diukur PISA, TIMSS dan PIRS serta AKSI/AKM Puspendik Balitbang Kemdikbud merupakan cerminan dari buruknya proses pembelajaran di jenjang SD/MI.

Dan sesudah setahun lebih mengikuti Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) ke 12 Provinsi dan 21 lokasi Pelatihan Gerakan dan mendengar "curhat" dan curah pendapat pengalaman para guru SD/MI, dugaan saya mendekati kebenaran.

Jika kita cermat membaca data Neraca Pendidikan Daerah (npd.data.kemdikbud.go.id) sejak Tahun 2015 hingga saat ini, jenjang SD/MI memiliki jumlah murid, sekolah dan guru yang paling besar.

Namun semua indikator terburuk seperti level akreditasi, kondisi kelas dan sekolah, mutu guru, kualifikasi guru hingga rasio guru dan murid, semua menunjuk ke jenjang SD (dan MI).

Baca juga: 7 Alasan Anak Sosial Perlu Kuasai Matematika Dasar

 

Hal ini menunjukkan bahwa kita kurang peduli kepada jenjang SD/MI dan jika hal yang terlihat saja masih seperti itu, apalagi persoalan kompetensi guru jenjang SD/MI, nyaris tidak pernah disentuh.

Mengapa kita begitu abai kepada jenjang SD/MI ini?

Tak lain karena umumnya pejabat pembuat kebijakan merasa tidak menemukan masalah di jenjang ini.

Tingkat tinggal kelas semakin sedikit, peserta olimpiade dan lomba sejenis semakin marak dan akhirnya sudah terbentuk persepsi bahwa "pelajaran SD/MI yg begitu saja pasti bisa ketika lulus SD/M".

Terjadi sikap "taken for granted" bahwa ketika mereka 6 (enam) Tahun di SD/MI, maka Kompetensi Dasar (KD) yang diwajibkan Kurikulum tuntas dikuasai, fakta mengatakan sebaliknya.

Kompetensi matematika dan membaca

Fakta buruknya kompetensi matematika, sains dan Mmembaca murid Indonesia diakui resmi oleh negara, sehingga hasil uji PISA dan AKSI/AKM Balitbang Kemdikbud dijadikan baseline salah satu target pencapaian Mutu Pendidikan Dasar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X