Mendikbud Ibaratkan Kampus sebagai Kolam Renang, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 09/03/2020, 12:42 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim menyinggung soal pendidikan karakter dan juga masalah bullying saat menghadiri Rakornas Bidang Kebudayaan di Jakarta (26/2/2020). DOK. KEMENDIKBUDMendikbud Nadiem Makarim menyinggung soal pendidikan karakter dan juga masalah bullying saat menghadiri Rakornas Bidang Kebudayaan di Jakarta (26/2/2020).
|

KOMPAS.com - Banyak istilah yang digunakan Mas Menteri, sapaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim. Saat membicarakan konsep " Kampus Merdeka", Mendikbud mengibaratkan kampus itu sebagai kolam renang.

Kenapa kolam renang? Ini penjelasan Nadiem Makarim yang dilansir dari laman resmi Kemendikbud, Senin (9/3/2020). Ternyata, mahasiswa harus siap ketika lulus kuliah dan menghadapi dunia kerja.

Konsep 3 semester

Sebelumnya, Mendikbud menjelaskan bahwa di "Kampus Merdeka" terdapat perubahan di sistem perguruan tinggi. Termasuk di dalamnya juga ada perubahan untuk mahasiswa, salah satunya ialah belajar di luar fakultasnya.

Baca juga: Kampus Merdeka, Magang hingga 3 Semester Akan Untungkan Mahasiswa

Tujuannya tak lain untuk menciptakan subjek-subjek lintas disiplin. Ini tak lepas dari apa yang dipelajari mahasiswa dengan kariernya nanti.

"Inilah konsep tiga semester (magang) dalam Kampus Merdeka itu. Esensinya adalah gelar S1 yang efektif adalah hybrid," ujar Mendikbud.

Menurut dia, mahasiswa harus memiliki kombinasi dalam menunjukkan kompetensinya, baik di dalam komunitas akademi, maupun dalam komunitas di luar kampus sampai dengan 3 semester.

Maka tak heran jika mahasiswa nantinya harus bisa menjalin kolaborasi antarfakultas, baik itu di dalam maupun di luar fakultas. Hal ini demi menciptakan subjek-subjek lintas disiplin.

Ada ketidaksesuaian di kampus

Lebih jauh, Nadiem Makarim menjelaskan ada berbagai hal yang memengaruhi program studi dan karier yang ditempuh mahasiswa. Seperti dari sisi menemukan jati dirinya sendiri.

Dia mencontohkan, ada mahasiswa yang baru sadar telah salah mengambil jurusan setelah satu semester perkuliahan berjalan. Bisa pula ada yang terpaksa kuliah di universitas tertentu atau mengambil jurusan tertentu karena mengikuti kemauan orangtua.

Tak hanya itu saja, terkadang di lapangan kerja juga ada realita karena ada ketidaksesuaian antara perguruan tinggi dengan mahasiswa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X