Di Saat-Saat Ini, Jangan Mudah Merasa Ambyar

Kompas.com - 03/04/2020, 12:43 WIB
Ilustrasi Buku Segala-galanya Ambyar, terbitan Grasindo DOK. GRASINDOIlustrasi Buku Segala-galanya Ambyar, terbitan Grasindo

KOMPAS.com - Apakah lawan dari kebahagiaan? Lawan kebahagiaan bukanlah kesedihan atau amarah. Lawan dari kebahagiaan adalah tiadanya harapan...

Kalau Anda masih bisa sedih atau marah, itu berarti Anda masih menyimpan setitik harapan. Sementara, ketika harapan sudah hilang, manusia akan merasa dirinya kosong, sebab dunia dan seisinya tidak lagi menarik.

Barang-barang, uang, prestasi, keluarga, bahkan cita-cita Anda menjadi tidak bernilai. Itulah saat segala-galanya menjadi ambyar.

Mark Manson, penulis yang buku pertamanya, "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat", sangat digemari baik di Indonesia maupun di luar negeri, kini kembali, namun dengan materi yang mungkin membuat dahi Anda sedikit mengernyit.

Masih dengan gaya khasnya yang ringan dan humoris, buku terbarunya, "Segala-galanya Ambyar", berbicara tentang sisi lain kehidupan, yaitu kekalutan dan ketiadaan harapan.

Baca juga: Science Underground: Waspada Jebakan Berpikir di Tengah Wabah Korona

Meski sekilas bukanlah tema yang enak untuk didengarkan, gagasan-gagasan Manson di buku ini mampu menerangi peristiwa-peristiwa yang sedang melanda saat ini. Tulisannya patut dibaca untuk menemani kita di masa-masa ini.

Semakin maju malah semakin ambyar

Saat ini, semakin sering kita mendapati berita-berita kriminal, penembakan sekolah, teror, maupun bunuh diri, yang ternyata didorong stres, depresi, atau motif-motif yang terlalu sederhana, gara-gara diputus pacar, diejek, atau dihukum.

Orang-orang mudah depresi, dan nekat melakukan hal yang fatal, seolah tidak ada pilihan lain.

Mark Manson bahkan memuat statistik di AS, yang menyebutkan bahwa terjadi lonjakan kasus depresi dan kecemasan di kalangan anak-anak muda dan remaja, bahkan stres kini melanda di usia yang lebih awal. Hampir separuh populasi AS mengaku mengalami keterasingan sosial dan kesepian.

Secara global, orang-orang saat ini mengalami krisis kepercayaan sosial, bahkan semakin tidak percaya pada pemerintah, media, maupun sesamanya.

Fakta tersebut merupakan sebuah paradoks. Pasalnya, sekarang ini adalah periode yang paling maju dan paling makmur, dengan harapan hidup yang paling tinggi di sepanjang sejarah manusia.

Jika menengok ke belakang, 50 tahun yang lalu saja, sangat mustahil orang dapat mengakses fasilitas kesehatan, padahal banyak penyakit mengintai, dan sewaktu-waktu, mereka berisiko terjangkit.

Lebih ke belakang lagi, 100, 200, atau bahkan 500 tahun yang lalu, tidak ada kesetaraan hak, terjadi rasisme, wabah setiap saat mengintai, pemimpin politik berlaku lalim, dan perang serta pembantaian bisa terjadi setidaknya setahun sekali.

Dunia yang kita tinggali saat ini adalah apa yang dicita-citakan dan diharapkan oleh mereka di zaman dahulu.

Inilah paradoks kemajuan.

Semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang menerpa dunia ini. Baru diputus oleh pacar, langsung berpikir untuk bunuh diri. Ditegur oleh atasan, langsung menyebutnya sebagai pelanggaran HAM. Berawal dari saling ejek, seorang anak SMP nekat melakukan penembakan seisi sekolah.

Apa yang terjadi pada diri kita saat ini? Apa yang menyebabkan kita mudah merana dan ambyar, padahal segalanya terus menerus mengarah pada kemajuan yang semakin baik?

Baca juga: Buku yang Dapat Mengurai Sistem Berpikir Kita

Ketika bencana datang

Dalam "Segala-galanya Ambyar", Manson menandaskan: Kematangan budaya kita telah merosot. Baik dalam dunia yang masih berkembang maupun yang sudah kaya, kita tidak hidup dalam sebuah krisis kesejahteraan atau material, tapi sebuah krisis karakter.

Bagaimana mungkin ini terjadi? Dunia memang semakin makmur dan sejahtera, namun rupanya tujuan kemajuan ini semakin lama melenceng, yaitu hanya untuk memanjakan manusia.

Awalnya, kita berinovasi untuk menemukan vaksin yang bisa membasmi penyakit-penyakit mengerikan, seperti polio atau campak.

Itu adalah hal yang bagus. Namun, kini inovasi ditunggangi oleh permainan ekonomi pasar, memunculkan alat-alat yang tidak esensial: ponsel dengan 5 kamera, media sosial dengan aneka fitur, belanja online dengan hanya sekali klik, krim pemutih kulit, dan segala acara gosip.

Sebagian besar kemajuan yang kita dapat bertujuan mengalihkan penderitaan. Akibatnya, banyak manusia kembali menjadi anak-anak.

Mereka menaruh harapan yang konyol: memakai ponsel terbaru supaya tampak keren, memaki orang di media sosial supaya terlihat penting, memamerkan saldo ATM supaya disanjung teman-temanya.

Mereka membesar-besarkan kesusahan yang remeh: internet yang lemot, AC yang kurang dingin, motor yang sudah butut, rapat yang keliru menyebut nama.

Jika tidak dipenuhi, mereka akan merengek, memaksa, membanting kursi, melakukan pemogokan, merusak fasilitas umum, atau parahnya, bunuh diri.

Tipe orang-orang seperti ini banyak kita temui di mana pun, mulai dari keluarga bahkan hingga dunia politik dan pemerintahan. Mereka meyakini bahwa dunia bergerak seturut keinginan dan harapan mereka.

Bukan berarti seluruh permasalahan itu tidak berbobot. Pasalnya, orang cenderung terlalu cepat merasa segala-galanya ambyar, dan orang terlalu ngotot untuk dipenuhi semua harapannya.

Akibatnya, ketika bencana yang besar dan bersifat global terjadi, kita tercerai berai dan terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Tidak ada kunci, kecuali satu hal ini

Apakah buku Segala-galanya Ambyar menjanjikan suatu tips atau kunci untuk menyelesaikan situasi-situasi ambyar ini. Tidak.

Manson dengan tenang menyangkalnya. Bahkan tidak ada seseorang, suatu institusi, atau buku apa pun yang bisa memberi formula ampuh sekali-jadi untuk menyelesaikannya. Jika ada yang menawarkan harapan tersebut, jangan pernah percaya.

Itu merupakan jebakan dunia modern yang mendorong kita untuk mencari hal-hal yang instan: cara cepat kaya, cara cepat sembuh, cara cepat viral, cara selalu cantik, atau cara bahagia.

Baca juga: Pasien Covid-19 Pertama di Bekasi Sembuh: Terus Berzikir, Baca Buku Motivasi, Tak Lihat Medsos

Alih-alih memberikan solusi langsung, buku ini memberikan cara pada Anda untuk bisa bertahan, menjadi tegar dan dewasa saat menghadapi setiap situasi, dari masa ke masa.

Cara itu adalah dengan menjadi manusia yang tidak mudah rapuh. Hanya dengan menjadi manusia yang kuatlah, kita bisa hidup dengan tanpa syarat, tanpa harapan yang neko-neko.

Bukanlah sebuah kebetulan bahwa semua agama besar dunia mendorong orang untuk memeluk nilai-nilai tanpa syarat ini, mulai dari belas kasih tanpa syarat yang diajarkan Yesus Kristus atau Delapan Jalan Kebenaran dari Sang Buddha, atau keadilan sempurna Muhammad.

Dalam bentuk yang paling sempurna, agama-agama besar di dunia ini mengangkat kita dari insting manusiawi yang selalu haus harapan, dan mencoba untuk membawa seluruh umat manusia untuk menghampiri keluhuran dewasa.

Uniknya, dengan sangat brilian, Manson menjelaskan prinsip-prinsip kedewasaan manusia itu dengan menggabungkan riset-riset ilmiah dari 3 cabang ilmu: sejarah dunia, psikologi klinis, dan filsafat.

Di buku ini, Manson mengupas pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Plato, Kant, Isaac Newton, hingga Nietzsche dan Durkheim. Namun, ia juga membahas pemikir-pemikir modern, seperti Antonio Damasio, Steven Pinker, Dan Ariely, Jonathan Haidt, Nassim Taleb, hingga Yuval Noah Harari.

Manson juga tidak pernah kehilangan gaya khasnya yang blak-blakan dan humoris. Dia juga melengkapi dengan cerita-cerita anekdotal yang segar dan lucu, persis seperti di buku pertamanya.

Ia bercerita tentang Witold Pilecki, sang tahanan sukarela di Auschwitz, tentang Tom Waits, si musisi yang doyan mabuk, bahkan tentang Thich Quang Duc, sang rahib Vietnam yang membakar diri di tengah jalan.

Buku Mark Manson merupakan bekal untuk hidup yang baik, dan sekaranglah, saat segalanya tampak kacau, saat yang paling tepat untuk membacanya,” begitu kata Ryan Holiday, penulis buku laris "The Obstacle Is the Way dan Ego Is the Enemy".

Senada dengan itu, buku ini juga dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menemani Anda di hari-hari karantina mandiri saat ini.

Penulis: Adinto F. Susanto, penerjemah buku "Everything is F*cked" (menjadi "Segala-galanya Ambyar")

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X