Kisah Relawan Mahasiswa: Letihnya Pakai APD dan Rasa Kemanusiaan

Kompas.com - 21/04/2020, 17:50 WIB
Relawan di Rumah Sakit UI (RSUI) Javas Rizqi Ramadhan mengenakan Alat Pengaman Dasar (UI). Javas merupakan mahasiswa Program Studi; Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) bergabung menjadi relawan RSUI sejak 1 April 2020. Ia ditempatkan di unit Health Care Assistant (HCA) RSUI untuk membantu para perawat dalam menangani pasien COVID-19.
Dok. Humas UIRelawan di Rumah Sakit UI (RSUI) Javas Rizqi Ramadhan mengenakan Alat Pengaman Dasar (UI). Javas merupakan mahasiswa Program Studi; Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) bergabung menjadi relawan RSUI sejak 1 April 2020. Ia ditempatkan di unit Health Care Assistant (HCA) RSUI untuk membantu para perawat dalam menangani pasien COVID-19.

KOMPAS.com - “Ketika saya menggunakan APD, cukup meletihkan, karena saya tidak bisa bernafas secara leluasa, harus menahan buang air, menahan tidak makan dan minum untuk waktu yang cukup lama," kata Relawan Mahasiswa Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Javas Rizqi Ramadhan (21).

Javas adalah mahasiswa Program Studi; Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Pengalamannya bergabung menjadi relawan untuk penanggulangan corona benar-benar ia tak lupakan.

Salah satunya ketika menggunakan APD (Alat Pengaman Dasar) sebagai standar keamanan saat bertugas.

Javas bergabung menjadi relawan RSUI dan ditempatkan di unit Health Care Assistant (HCA) RSUI untuk membantu para perawat dalam menangani pasien corona.

Sekalipun ia bukan mahasiswa program studi rumpun ilmu kesehatan, tetapi ia tetap berniat untuk bergabung menjadi relawan. Rasa kemanusiaannya terpanggil melihat kondisi terbatasnya tenaga medis.

“Ilmu Kesejahteraan Sosial yang selama ini saya tempuh semasa kuliah menjadi pendorong saya untuk bisa turun menjadi volunteer. Praktik kesejahteraan sosial yang menekankan empati dalam setiap penyelesaian permasalahan, menguatkan saya untuk bisa turun langsung menjadi relawan," kata Javas dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Dengan bergabung menjadi relawan, ia berharap bisa berkontribusi terhadap permasalahan tersebut.

“Saya juga sangat terinspirasi atas ajaran agama yang menyebutkan bahwa menyelamatkan satu orang manusia sama seperti menyelamatkan seluruh manusia. Terlebih support yang diberikan dari orang tua di kampung yang mendukung saya untuk bisa berkontribusi di tengah wabah corona, menjadi motivasi yang tak ternilai,” ujar Javas.

Javas menjalani tanggung jawab menjadi relawan dengan jadwal kerja sebanyak 4-5 hari kerja. Setiap hari ia memperoleh satu shift (6-7 jam per hari).

Tugas Javas sebagai relawan diantaranya membantu perawat mengambil resep obat ke unit farmasi, mengantarkan sampel darah ke unit laboratorium, menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis, dan menyiapkan pakaian bagi para tenaga medis yang bertugas di unit HCA corona.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X