Pakar UB: "Wisatawan Nekat" Berpotensi Picu Gelombang Kedua Corona

Kompas.com - 15/06/2020, 13:51 WIB
Ilustrasi liburan Getty Images/iStockphotoIlustrasi liburan

Ketiga, wisatawan ingin memastikan dan harus merasa yakin bahwa hotel, tempat wisata, restoran, café, dan tempat oleh-oleh yang akan dikunjungi betul-betul memenuhi tiga unsur utama pariwisata yaitu Kebersihan, Kesehatan dan Keselamatan.

Dengan kondisi wisatawan yang seperti itu, kata Pia, pelaku industri pariwisata dapat mengindentifikasi beberapa tipe wisatawan.

Tipe pertama ada wisatawan "paranoid" yang memiliki ketatakutan berlebihan akan tertular virus Covid-19. Wisatawan "stay alert" yang selalu waspada pada bahaya virus COVID-19.

Baca juga: Beasiswa D3 Angkasa Pura I, Kuliah Gratis dan Dapat Uang Saku

Lalu, ada wisatawan "travel wise" yang tetap menikmati perjalanan wisatanya namun tetap patuh pada protokol kesehatan.

Serta wisatawan "nekat" yang hanya senang menikmati perjalanan wisatanya tapi cuek dan tidak patuh pada protokol kesehatan.

"Nah, yang perlu diwaspadai adalah wisatawan nekat, saya prediksi jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan yang bijak dalam berwisata dan patuh dengan protokol kesehatan," papar Pia seperti dirangkum dari laman UB, Minggu (14/6/2020).

"Mereka inilah yang bisa mempercepat penularan virus Covid-19 di tempat-tempat pariwisata akibat rendahnya rasa kesadaran akan bahaya virus ini dan disiplin diri untuk mematuhi protokol kesehatan."

Perlu adanya komunikasi interaktif

Selain melakukan persiapan internal dalam hal pemenuhan Kebersihan, Kesehatan dan Keselamatan (3K), para pelaku pariwisata juga harus membuat strategi komunikasi pemasaran yang tepat.

Baca juga: Universitas Budi Luhur Buka 2.000 Beasiswa untuk Calon Mahasiswa D3-S1

"Strategi komunikasi pemasaran ini harus dijalankan minimal tiga minggu berturut-turut sebelum industri pariwisata beroperasional. Pelaku pariwisata harus menyosialisasikan hal-hal yang harus diketahui dan dipatuhi oleh para wisatawan serta konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi jika melanggar protokol kesehatan yang telah diterapkan oleh para pelaku pariwisata," saran Pia.

Harus pula disediakan layanan komunikasi interaktif 24 jam melalui berbagai saluran komunikasi yang memudahkan wisatawan menghubungi para pengelola pariwisata saat mereka menghadapi masalah misalnya tiba-tiba sakit.

Jika tidak dilaksanakan dengan baik, Pia menegaskan, bisa dipastikan gelombang kedua pandemi Covid-19 bisa terjadi selama 2-4 minggu di awal dibukanya industri pariwisata.

"Jangan sampai industri pariwisata dituduh sebagai pemicu terjadinya second wave yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar lagi pada industri pariwisata Indonesia, yaitu penutupan total industri pariwisata Indonesia," kata Pia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X