SBM ITB dan Persib Gelar Webinar Perencanaan Keuangan bagi Pekerja Industri Olahraga

Kompas.com - 25/06/2020, 21:59 WIB
Financial Planning Adhis AnggianyFinancial Planning

Untuk itu, dalam perencanaan keuangan, yang harus disiapkan adalah dana darurat. Dana ini dialokasikan secara terpisah untuk kebutuhan yang sifatnya sangat darurat.

Besarannya secara teori, untuk lajang 3 bulan dari pengeluaran bulanan. Untuk keluarga kecil dengan dua anak, baiknya memiliki dana sebesar 6 kali pengeluaran bulanan. Sedangkan keluarga besar, 9-12 kali pengeluaran bulanan.

Lalu, dimana menepatkan dana darurat? Ada tiga kriteria yakni aman, mudah diakses, dan mudah dicairkan.

Kemudian manajemen arus kas. Ada baiknya membuat catatan keuangan. Lihatlah pengeluaran yang naik dan turun selama pandemi, cek kondisi kesehatan, surplus atau defisitkah. Kemudian lakukan skala prioritas.

“Prioritas dalam keuangan itu, pertama kewajiban seperti KPR, SPP, dan premi asuransi. Kedua, kebutuhan, yakni hal primer seperti makanan, kesehatan, dan keamanan. Kemudian ketiga keinginan,” ucap Sylviana.

Dalam hal manajemen utang, sebaiknya jumlah utang maksimal 30 persen dari pendapatan. Lalu, bayarlah utang dengan bunga paling tinggi terlebih dahulu.

Bagi yang memiliki kartu kredit, pastikan membayar full, manfaatkan 0 persen, bila bisa tidak perlu memiliki kartu kredit.

Baca juga: Anies Baswedan: Sekolah Jadi Instrumen Mengangkat Derajat Ekonomi Sosial

Investasi

Di masa pandemi ini, seseorang masih bisa melakukan investasi. Kaprodi MBA ITB, Subiakto Soekarno mengatakan, di saat pandemi, investasi lebih ditujukan pada keamanan bukan melipatgandakan. Untuk itu, ia menyarankan reksadana pasar uang.

Meski low risk, low return, reksadana pasar uang tergolong aman. “Serendah-rendahnya reksadana pasar uang masih berikan 7 persen tanpa potongan apapun. Nanti setelah kondisi membaik, bisa pindah ke pendapatan tetap, dan lainnya,” ungkap Subiakto.

Ia pun mengingatkan para pemain dan staf Persib untuk berhati-hati pada orang yang menawarkan investasi. “Rumusnya, kalau to good to be true, itu not true. Kalau kita tidak punya intervensi pada investasi kita, sebaiknya jangan,” tutur Subiakto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.