Seperti Apa Pernikahan Massal ala Mendikbud Nadiem Makarim?

Kompas.com - 30/06/2020, 14:53 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Kerja secara telekonferensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), di Jakarta, Rabu (20/5/2020). DOK. KEMENDIKBUDMendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Kerja secara telekonferensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), di Jakarta, Rabu (20/5/2020).

KOMPAS.com - Salah satu program prioritas yang tengah digencarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) adalah gerakan " Pernikahan Massal” (Link and Match) antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

Dalam kegiatan ini juga dilakukan perancangan peta jalan pemimpin yang kreatif, inovatif, dan berorientasi kepada kebutuhan DUDI yang sejalan dengan program-program prioritas Kemendikbud.

“Menurut saya pernikahan massal ini analogi yang tepat karena menunjukkan
komitmen yang permanen. Vokasi baru akan lengkap dengan kehadiran praktisi dan
kurikulum yang mengikuti kebutuhan dari industri," tutur Nadiem dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Nadiem menambahkan bahwa pernikahan massal ini bukan sekadar perjanjian
kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU), melainkan harus menjadi
pernikahan atau kerja sama yang sangat erat dan mendalam serta berlanjut bahkan
sampai punya anak-anak (lulusan) yang diasuh bersama.

"Jadi tidak hanya kencan atau MoU saja, tetapi harus dipastikan hingga ke jenjang pernikahan bahkan hingga memiliki anak-anak, yang bisa terserap sebanyak-banyaknya di industri karena kualitas dan kompetensi sesuai dengan DUDI,” ujar Nadiem.

Baca juga: Nadiem Ingatkan Kerja Sama Vokasi dan Industri Jangan Sekadar MoU Saja

Agar tujuan tercapai, lanjut Nadiem, keharmonisan hubungan dengan industri dan
dunia kerja harus terjadi di semua lini mulai dari awal penyusunan kurikulum, pelatihan
guru, hingga tahap akhir yaitu penyerapan lulusan sehingga pernikahan massal ini
akan menguntungkan banyak pihak, terutama untuk anaknya, yaitu para peserta didik.

“Mereka langsung dibimbing dalam ekosistem yang nantinya akan menerima mereka
dalam dunia kerja. Saat lulus, mereka sudah punya keahlian awal yang terbentuk,
terbiasa dengan pola pikir, budaya kerja, pola komunikasi yang memang dibutuhkan
sebagai modal menjadi talenta yang berdaya saing dan berkualitas,” kata Nadiem.

Untuk itu, dengan skema pernikahan ini pihak industri dan dunia kerja akan
diuntungkan. Bagi Kemendikbud, dunia usaha dan dunia industri akan mendapatkan talenta
(lulusan) yang tepat dan kompeten sesuai dengan kebutuhan industri sehingga
permasalahan bangsa mengenai disparitas antara suplai dan permintaan sumber
daya manusia yang kompeten tertutup.

Seperti apa pernikahan massal?

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X