Alasan Jatim Jadi Episentrum Baru Covid-19 Menurut Ahli Epidemiologi Unair

Kompas.com - 01/07/2020, 19:00 WIB
Warga mengikuti tes cepat (Rapid Test) COVID-19 massal di Lapangan Hoki, Jalan Dharmawangsa, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2020). Badan Intelijen Negara (BIN) telah melakukan tes cepat (Rapid Test) COVID-19 terhadap 34.021 orang serta tes usap (Swab Test) COVID-19 terhadap 4.637 orang di Surabaya sejak Jumat (29/5/2020) sampai Sabtu (20/6/2020) sebagai upaya untuk memutus rantai penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. ANTARA FOTO/Didik SuhartonoWarga mengikuti tes cepat (Rapid Test) COVID-19 massal di Lapangan Hoki, Jalan Dharmawangsa, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2020). Badan Intelijen Negara (BIN) telah melakukan tes cepat (Rapid Test) COVID-19 terhadap 34.021 orang serta tes usap (Swab Test) COVID-19 terhadap 4.637 orang di Surabaya sejak Jumat (29/5/2020) sampai Sabtu (20/6/2020) sebagai upaya untuk memutus rantai penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj.

KOMPAS.com - Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga ( Unair) Windhu Purnomo menyebut sejumlah alasan mengapa Jawa Timur kini menjadi episentrum baru pandemi Covid-19 di Indonesia.

Dengan jumlah 11.508 kasus Covid-19 per 28 Juni 2020, Jawa Timur melampaui jumlah kasus yang tercatat di DKI Jakarta dan menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif tertinggi di Indonesia.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Advokasi PSBB dan Surveilans Covid-19 Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair itu mengatakan bahwa tingginya risiko terinfeksi di Surabaya dikarenakan oleh tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, yaitu di angka 8.600 per kilometer persegi.

Baca juga: Tips Sederhana agar Tak Mudah Lelah Saat Bersepeda dari Pakar Unpad

Alasan lain mengapa kasus Covid-19 meningkat, lanjut dia, ialah kurangnya penegakan protokol kesehatan dan pengendalian kepatuhan warga yang tidak ketat, serta nihilnya sanksi denda dalam peraturan walikota apabila melanggar protokol kesehatan tersebut.

Meski begitu, Windhu menjelaskan attack rate atau atau tingkat serangan Covid-19 di provinsi tersebut bukan yang tertinggi di Indonesia, karena menempati peringkat 9 dari 34 provinsi di Indonesia.

Attack rate Jawa Timur hanya sebesar 27 per 100.000 penduduk, sedangkan DKI Jakarta sebesar 105 per 100.000 penduduk.

Windhu menjelaskan bahwa attack rate merupakan nilai seberapa besar risiko penduduk terinfeksi Covid-19.

Baca juga: E-book Akhir Pekan, Kisah Bertahan di Wuhan hingga Resep Empon-empon

“Namun ini tidak sepenuhnya berita baik karena pada faktanya, Surabaya kini adalah kota yang memiliki attack rate yang tertinggi di Indonesia. Nilainya sekitar 150 per 100.000 penduduk," papar Windhu seperti dilansir dari laman Unair News.

Attack rate ini, lanjut Windhu, meningkat sebesar 75 persen ketika masa transisi dan PSBB sudah tidak diberlakukan lagi di Surabaya.

"Tentu tingginya risiko terinfeksi ini menjadi faktor utama Jawa Timur menjadi episentrum Covid-19 di Indonesia," imbuhnya.

Halaman:


Sumber UNAIR News
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X