Hari Anak Nasional, Kompas Gramedia Gelar Konser Virtual "Dendang Sejuta Anak"

Kompas.com - 23/07/2020, 11:46 WIB

Nama ini dijadikan nama program yang dijalankan oleh Kompas Gramedia pada tahun 1990 hingga 1996.

Dendang Kencana awal mulanya digagas oleh Penerbit Grasindo yang pada saat itu menerbitkan buku kumpulan lagu karya almarhum AT Mahmud, Daljono dan Ibu Sud.

Untuk menyebarluaskan lagu anak-anak karya para pendidik, maka diadakanlah lomba paduan suara tingkat TK dan SD. Dalam perkembangannya kegiatan ini kemudian menjadi program kegiatan Kompas Gramedia yang diperuntukkan bagi guru dan siswa TK – SD.

Saat itu animo sekolah yang berpartisipasi cukup banyak, bahkan event ini menjadi satu kerinduan bagi pihak sekolah untuk berlomba mengikuti kompetisi tersebut.

Pada penyelenggaraan Dendang Kencana IV, kegiatan dilengkapi dengan workshop musik dan vokal untuk guru TK dan SD sebagai bekal saat mereka melatih kelompok paduan suara di sekolahnya.

Baca juga: Hari Anak Nasional, Jokowi: Senyum Anak Indonesia Membuat Saya Semangat Bekerja

Mencintai lagu anak Indonesia

Poster digital Konser Virtual Dendang Sejuta Anak, Dendang Kencana, Kompas GramediaDOK. KOMPAS GRAMEDIA Poster digital Konser Virtual Dendang Sejuta Anak, Dendang Kencana, Kompas Gramedia
Dendang Kencana bukan semata sebagai ajang lomba namun juga memberikan pengetahuan mendasar bagaimana cara bernyanyi yang baik, cara beradaptasi dengan teman satu kelompok, menahan emosi untuk tidak mendominasi suara, dan bagaimana sama-sama belajar menjadikan suara harmoni.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah pelaksanaannya yang terakhir di tahun 1996, Dendang Kencana kembali hadir pada tahun 2017 dengan berangkat dari keprihatinan atas minimnya lagu-lagu anak saat ini.

Kondisi yang berbeda terjadi di tahun 1970 hingga 1990an di mana kala itu banyak pencipta lagu anak yang terus berkarya hingga akhir hayat mereka, antara lain Pak Daljono, Pak Kasur dan Bu Kasur, Ibu Soed dan Pak AT Mahmud.

Tema lagu anak yang mereka buat berasal dari kehidupan di sekitar kita, seperti kebiasaan sehari-hari anak-anak, keindahan alam, orangtua, serta rasa syukur kepada Tuhan.

Sementara kini, anak-anak tidak mendapatkan haknya untuk menikmati keceriaan masa kanak karena televisi dan radio tidak lagi menayangkan acara lagu anak-anak.

Lebih lanjut, Dinartisti sebagai Ketua Panitia Dendang Kencana menambahkan bahwa kondisi seperti ini juga terjadi di sekolah-sekolah dengan berkurangnya muatan pelajaran seni musik dan vokal.

Belum lagi keterbatasan guru seni musik dan vokal yang mengerti betul bidang tersebut dan mempunya latar belakang yang sesuai.

“Program Dendang Kencana digelar untuk mengisi kekosongan tersebut, dan semoga dapat menjadi suatu gerakan bersama untuk kembali mencintai lagu anak Indonesia,” ujar Dinartisti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X