Hari Anak Nasional, Berdayakan Guru BK Dukung Psikologis Siswa Saat PJJ

Kompas.com - 23/07/2020, 13:07 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat pelaksanaan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Sebagian besar siswa masih harus belajar dari rumah baik secara daring maupun luring, tak ada pula keriuhan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru.

Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, pemerintah memutuskan memperpanjang PJJ untuk sekolah-sekolah yang tidak berada di zona hijau Covid-19.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti menilai, keputusan diperpanjangnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sangat dilematis.

Baca juga: Muhammadiyah Mundur dari Organisasi Penggerak Kemendikbud, Ada Apa?

"Karena kalau membuka sekolah tatap muka akan membahayakan kesehatan dan keselamatan anak-anak, namun di sisi lain pemerintah juga belum melakukan evaluasi dan perbaikan untuk PJJ fase kedua," terang Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (23/7/2020).

Padahal, kata dia, data menunjukkan anak-anak tertekan selama PJJ fase pertama.

Untuk itu, KPAI mendorong ada perbaikan dalam PJJ fase kedua agar anak-anak dapat menjalani PJJ dengan kondisi bahagia.

"Karena 79,9 persen siswa menyatakan tidak senang belajar dari rumah karena 76,8 persen gurunya tidak melakukan interaksi selama PJJ kecuali memberikan tugas-tugas saja," imbuh Retno.

Baca juga: Pesan Mendikbud Nadiem Makarim di Hari Anak Nasional 2020

Terkait kondisi tersebut, Retno mengatakan, ketika seluruh aktivitas anak dipindahkan ke rumah, maka keluarga, baik orangtua/wali maupun pengasuh pengganti harus memiliki kepekaan terhadap kondisi psikologis anak-anak.

"Orang dewasa di lingkungan keluarga haruslah menempatkan diri sebagai kawan bagi anak-anak," saran dia.

Namun, ketika pengasuhan keluarga tidak berjalan ideal, di mana keluarga justru menjadi sumber masalah bagi psikologi anak-anak, ia menyebut perlu adanya wadah lain yang bisa membantu anak-anak secara psikologis.

Berikut sejumlah cara yang direkomendasikan oleh KPAI kepada guru, sekolah dan orangtua agar anak-anak bisa bahagia selama belajar di masa pandemi:

1. Memaksimalkan peran guru bimbingan konseling

KPAI menyebut Guru BK perlu dibekali ilmu psikologi anak, sehingga guru BK bisa bisa menjalankan fungsinya sebagai konselor bagi para murid yang mengalami masalah psikologis.

Baca juga: HAN 2020, KPAI Usul Pemerintah Berikan Internet Gratis Selama PJJ

Guru BK setidaknya dapat menjadi tempat curhat bagi para siswanya selama pandemi. Sekolah juga memfasilitasi guru BK dengan handphone, kuota internet, pulsa dan nomor seluler.

Sebaiknya guru BK juga tidak menggunakan nomor pribadinya agar dapat maksimal melayani 150 anak sebagaimana ketentuan yang berlaku.

2. Teman sebagai konselor sebaya atau curhat ke wali kelas

Biasanya, anak-anak memiliki teman dekat atau sahabat. Terkadang anak-anak juga sangat dekat dengan wali kelasnya sebagai orangtua kedua selama anak berada di sekolah.

Ketika pandemi, maka teman dekat maupun wali kelas bisa menjadi alternatif bagi anak-anak menumpahkan masalahnya sehingga hatinya terasa lebih ringan setelah curhat, meski mungkin belum mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapinya.

Baca juga: Orangtua, Ketahui Lamanya Konsentrasi Belajar Anak Sesuai Usia

3. Manfaatkan layanan konseling gratis di internet

Konseling gratis di internet juga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sarana atau wadah bagi anak-anak maupun orangtua melepaskan tekanan psikologis.

Anak-anak juga perlu diingatkan untuk tidak mengungkapkan masalah pribadinya melalui media sosial agar tidak mengalami cyber bully atau bisa saja berpotensi menjadi korban kejahatan melalui dunia maya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X