Seperti Ini Upaya Kemendikbud dalam Pemerataan Pendidikan

Kompas.com - 05/08/2020, 11:59 WIB
Ilustrasi
M LATIEF/KOMPAS.comIlustrasi
|

KOMPAS.com - Tidak hanya di daerah terpencil atau tertinggal saja, tetapi di provinsi yang sudah maju juga masih ada wilayah yang belum terjangkau akses internet.

Padahal, saat pandemi Covid-19 ini semua pembelajaran siswa dilakukan secara daring. Sehingga, masih diperlukan upaya agar pendidikan di Indonesia benar-benar merata.

Namun disamping teknologi, ada faktor lain yang perlu ditingkatkan. Yakni peningkatan kualitas seorang pemimpin di sekolah.

Baca juga: Cerita Seru Siswa SLB di Jabar Saat Ikut PJJ

"Tantangan kita bukan hanya pada peningkatan kualitas saja, tapi bagaimana bisa melakukan distribusi kualitas secara lebih merata," ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan ( Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) Iwan Syahril seperti dikutip dari laman Ditjen GTK Kemendikbud, Selasa (4/8/2020).

Pentingnya kepemimpinan pendidikan

Menurut Iwan, saat ini memang sudah banyak dilakukan terobosan. Tetapi yang utama kuncinya adalah kolaborasi dengan pemerintah setempat, atau ada kerja secara bersamaan.

Iwan menjelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah salah satu cara untuk mengakselerasi pemerataan pendidikan di Indonesia.

Jika sudah ada kerja bareng, maka selanjutnya ialah menguatkan kepemimpinan pendidikannya. Sebab, kepemimpinan pendidikan ini adalah hal yang penting dalam meningkatkan kualitas distribusi yang lebih merata.

"Karena kalau hanya fokus kepada peningkatan kualitas guru, tapi kepemimpinannya tidak kita bentuk dengan baik, maka akan susah. Karena sekolah di mana pun di Indonesia pemimpin itu penting," imbuhnya.

Nantinya, jika pemimpin di sekolah sudah bisa memahami bagaimana mengajar dengan baik dan bisa menjadi teladan, contoh, mentor, coach buat guru-guru yang lain maka itu dapat mempercepat peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan di daerah-daerah yang tertinggal.

Pentingnya adopsi teknologi

Tak hanya itu saja, Iwan Syahril juga mengungkapkan bahwa adopsi teknologi bisa menciptakan inovasi pembelajaran yang bermuara pada pemerataan kualitas pendidikan.

Oleh karena itu, teknologi kini bisa menjadi solusi untuk mendobrak akses lebih mudah, serta mendobrak sebuah tantangan yang tadinya sulit untuk dilakukan kini bisa ditembus dengan teknologi.

"Sekarang ada webinar. Kini guru bisa melakukan webinar tanpa perlu memikirkan harus naik pesawat dari Maluku Utara ke Jakarta. Ini terjadi dengan sangat cepat," katanya.

Kini, adopsi teknologi yang luar biasa mampu membentuk sebuah pola belajar baru dan harapan. Jadi, walaupun akses ke sebuah tempat susah tapi dapat disediakan konten-konten terbaik dan didukung oleh guru-guru yang sudah dilatih dengan baik.

"Jadi nanti yang kita bayangkan bakal segampang seperti di aplikasi apapun. Teman-teman bisa mengeksplorasi banyak hal dengan sangat mudah," tutur Iwan.

"Mau akses konten apa saja ada. Semua materi yang keren-keren itu ada pada ekosistem aplikasi yang bisa diakses oleh siapa saja," jelasnya.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Siswa Indonesia Toreh Prestasi Kejuaraan Debat Internasional

Namun terpenting, Kemendikbud sedang memperjuangkan semua sekolah di Indonesia bisa mendapatkan akses internet dengan baik.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X