Hasil Penelitian: Adopsi Teknologi Digital Berkorelasi dengan Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com - 09/09/2020, 20:31 WIB
Ilustrasi ekonomi digital SHUTTERSTOCKIlustrasi ekonomi digital

Oleh: Azka Aufary Ramli 

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 ini tak ubahnya seperti dalam konsep "Survival of The Fittes" dari Charles Darwin, dalam bukunya "On The Origin Of Spesies".

Dalam bukunya tersebut ia menjelaskan dalam proses seleksi alam, mereka yang paling bugar dan dapat beradaptasi dengan situasi lingkungannya lah yang akan berhasil melewati proses seleksi alam.

Sementara mereka yang tidak bugar dan sulit beradaptasi, akan tergerus oleh proses seleksi alam yang terjadi.

Begitupula dengan pandemi Covid-19 ini yang hampir mirip dengan proses seleksi alam, dimana setiap orang dituntut untuk bisa bertahan atau “survive” di tengah dampak yang ditimbulkannya.

Tidak hanya dari dampak kesehatan, namun juga dampak sosial, dampak ekonomi, dan dampak-dampak lainnya.

Baca juga: Membangun Narasi Bersama Akselerasi Pemulihan Ekonomi lewat Kampus Merdeka

Peran penting ekonomi digital

Menginjak era new normal, survival bisnis sangat bergantung pada kemampuan dan kecepatannya untuk beradaptasi dengan kondisi pasar agar dapat mempertahankan kelangsungan, produktivitas maupun menjaga profitabilitas bisnis.

Semua pihak diharuskan beradaptasi dengan masa ini agar bisa menjemput kesempatan (opportunity) baru.

Saat ini masyarakat mengalami perubahan disrupsi dalam skala besar di mana digital menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Don Tapscott, yang pertama kali melontarkan ide tentang ekonomi digital pada 1995, tentu bergembira bahwa ekonomi digital ternyata mendapatkan peran dan dampak yang penting di era pandemi ini.

Korporasi dan kegiatan usaha yang telah berbasis digital tentu akan mendapatkan keuntungan di era normal baru. Sementara itu, korporasi yang masih mengandalkan model bisnis tradisional kemungkinan besar akan semakin susah berkembang.

4 alasan transformasi

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami transformasi dari ekonomi tradisional ke arah ekonomi digital karena berbagai alasan.

Pertama, penggunaan teknologi digital akan memperbaiki proses produksi dan meningkatkan efisiensi, sehingga biaya produksi menjadi lebih murah dan keuntungan semakin meningkat.

Kedua, ketergantungan manusia pada teknologi informasi dan komunikasi sudah tidak bisa dipisahkan lagi sehingga mau tidak mau sebanyak mungkin aktivitas manusia dilakukan melalui teknologi digital.

Ketiga, faktor social distancing di era normal baru membuat physical contactless semakin diminati masyarakat, sehingga korporasi akan berlomba-lomba mengembangkan inovasi dan proses bisnis yang berbasis teknologi digital.

Keempat, bukti empiris dari berbagai studi dan penelitian memperlihatkan bahwa adopsi teknologi digital memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi dunia.

Oleh karena itu, prospek ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di era normal baru sangat menjanjikan.

Kelima, globalisasi ekonomi masih diperlukan oleh semua negara untuk mendukung kesejahteraan seluruh umat manusia sehingga ke depan ekonomi digital akan menjadi fondasi konektivitas dan perdagangan lintas negara.

Baca juga: Perguruan Tinggi Diharapkan Jadi Kunci Penguatan Ekonomi

Kisah sukses ekonomi digital

Penulis Azka Aufary Ramli (paling kanan) merupakan Wakil Sekertaris Jenderal Ekonomi Kreatif DPP AMPI dan Sekjen Bakornas Fokusmaker.DOK. PRIBADI Penulis Azka Aufary Ramli (paling kanan) merupakan Wakil Sekertaris Jenderal Ekonomi Kreatif DPP AMPI dan Sekjen Bakornas Fokusmaker.
Kita bisa melihat cerita sukses dari industri e-commerce yang mendapatkan momentum pertumbuhan luar biasa saat pandemi, dan saat industri lain mengalami kejatuhan.

Amazon, toko online terbesar di Amerika Serikat, membukukan kenaikan penjualan 26% selama kuartal I-2020, dan sanggup merekrut 175.000 pegawai baru saat korporasi lain terpaksa melakukan PHK.

Total transaksi Shopee di enam negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Taiwan meningkat dari US$ 203,5 juta menjadi US$ 429,8 juta atau naik 111,2 persen.

Jumlah konsumen Alibaba Group di Tiongkok naik dari 654 juta menjadi 726 juta pada periode yang sama, dan menargetkan 2 miliar konsumen serta pembukaan 100 juta lowongan kerja baru di dunia dalam lima tahun ke depan.

Penulis Azka Aufary Ramli merupakan Wakil Sekertaris Jenderal Ekonomi Kreatif DPP AMPI dan Sekjen Bakornas Fokusmaker.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X