Siswa, Ini Perjalanan Batik Jadi Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO

Kompas.com - 02/10/2020, 13:22 WIB
Ilustrasi membuat batik tulis. DOK. SHUTTERSTOCKIlustrasi membuat batik tulis.
|

KOMPAS.com - Bagi siswa sekolah yang sering memakai baju batik atau seragam batik, maka harus berbangga diri. Sebab, batik telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Tapi, apakah siswa sudah paham perjalanan batik yang kemudian ditetapkan oleh UNESCO. Melansir akun Instagram Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Jumat (2/10/2020), seperti ini perjalanannya.

Berikut ini perjalanan batik hingga ditetapkan UNESCO:

1. Batik didaftarkan pemerintah ke UNESCO dan berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang ditetapkan UNESCO pada 4 September 2008.

Baca juga: Siswa, Ini Bentuk Pengamalan Sila Ke-4 Pancasila

2. Kemudian, 9 Januari 2009 UNESCO menerima pendaftaran tersebut secara resmi dan dilakukan pengujian tertutup pada 11-14 Mei 2009 oleh UNESCO di Paris.

3. Batik dianggap memenuhi tiga dari lima domain berdasarkan Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya Takbenda Manusia 2003.

4. Adapun tiga poin tersebut ialah:

  • Tradisi dan ekspresi lisan.
  • Kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat ritus dan perayaan-perayaan.
  • Kemahiran kerajinan tradisional.

5. Tepat pada 2 Oktober 2009, Batik dikukuhkan di ruang sidang UNESCO yang bertempat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik dikukuhkan melalui sidang Intergovermental Committee for the Safeguard of the Intangible Culture Heritage sebagai Warisan Budaya Takbenda milik Indonesia.

Batik resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ke-3, setelah keris dan wayang yang terlebih dahulu masuk ke dalam daftar ICH UNESCO.

Kemudian setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Untuk tahun  2020 ini adalah peringatan ke-11 Hari Batik Nasional.

Pada naskah yang disampaikan ke UNESCO, batik adalah teknik menghias kain yang mengandung:

  • nilai
  • makna
  • simbol-simbol budaya

Keterampilan ini diturunkan dari generasi ke generasi dan menjadi penanda peradaban bangsa Indonesia.

Disamping itu, batik sejatinya merupakan sebuah proses, memiliki nilai lebih dari selembar kain bermotif. Kain batik menjadi sarana manifestasi dari kesabaran, ketekunan, ketelitian serta falsafah hidup pembuat batik.

Baca juga: Siswa! Yuk Jauhi Narkoba, Ini Bahayanya bagi Tubuhmu

Batik yang dimaksud adalah kain yang digambar dengan menggunakan alat tradisional yang disebut canting atau cap tembaga untuk mempercepat proses pembuatannya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X