Kompas.com - 08/10/2020, 16:25 WIB
Ilustrasi Mahasiswa DOK. PIXABAYIlustrasi Mahasiswa

Selain itu, pelajar bisa berbicara dengan keluarga dan teman mengenai permasalahan hidupnya agar bisa menemukan keteduhan hati maupun solusi.

4. Pola hidup sehat

“Jaga pola hidup sehat dengan makan sehat, tidur cukup, olahraga, dan buat jadwal teratur. Itu membantu sekali untuk meningkatkan kesehatan mental kita,” sambung Jovita.

5. Menyaring informasi

Dalam masa informasi serba cepat ini, pelajar juga lebih baik mencari informasi yang akurat dari sumber terpecaya dan tervalidasi.

“Jangan misalnya baca media sosial terus langsung percaya, tapi lihat dari sumber-sumber yang memang tervalidasi dan sudah terpercaya. Kalau tidak, berarti kita anggap itu hoaks,” ujarnya.

Baca juga: HRD: Mahasiswa, Tidak Masalah Jika Ingin Jadi “Kupu-kupu”

6. Miliki alarm diri

Tak kalah penting, pelajar juga harus kenali “alarm” diri. Jovita mencontohkan apabila merasa marah, pelajar melihat terlebih dahulu tanda-tanda fisik apa yang muncul dan pemicunya.

“Misalnya ngerasa kepalanya sakit nih atau merasanya kayak berat nih nafas. Berati saya mau marah nih. Kenali alarm diri. Pada saat dikenali, kemudian kita ambil ruang sejenak di tempat yang sepi atau di tempat yang tenang. Kita lakukan relaksasi pengambilan nafas,” jelasnya.

Kemudian, pelajar bisa mengucapkan terima kasih kepada perasaan itu karena sudah hadir, tetapi ingatkan juga bahwa diri kalian ingin fokus pada pengerjaan tugas terlebih dahulu.

“Kalaupun mau diselesaikan dulu, ya silakan. Misalnya marah sama kakaknya, ya kalau mau disampaikan saat itu, ya dengan cara asertif dengan ‘I Message’,” kata Jovita.

I Message’ adalah teknik komunikasi yang berfokus pada perasaan daripada pemikiran diri sendiri untuk menyatakannya kepada lawan bicara.

Biasanya pesan diawali dengan kata “saya merasa” bagaimana dan “karena” apa saya merasakan hal tersebut.

“Kenapa itu penting? Karena kalau saya bilang, saya merasa… (apa), maka orang yang saya sampaikan itu merasa tidak tersinggung dan enggak merasa dipersalahkan,” ujar Jovita.

Baca juga: Susi Pudjiastuti: Mahasiswa Jangan Cuma Main TikTok

7. Miliki hobi/kegemaran

Selain itu, pelajar bisa melakukan hobi atau kegiatan yang disukai supaya bisa meningkatkan kadar hormon pembuat bahagia di dalam tubuh.

8. Jangan malu konsultasi

Namun, jika semua hal di atas belum bisa membantu pelajar untuk menjaga kesehatan mental, maka Jovita mengatakan, tidak masalah jika harus mencari bantuan.

Pasalnya, manusia memang tidak bisa hidup sendiri dan bisa meminta tolong dengan orang terdekat.

“Kita bisa search for help dari siapapun. Bisa ke tenaga professonal ataupun psikolog dan psikiater. Sekali lagi, selama pandemi kita juga bisa melakukan secara online,” kata Jovita.

Sebagai penutup, Jovita berharap agar pelajar tetap berbuat baik dengan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang punya tanggung jawab untuk membuat dirimu senang.

“Tetap semangat dalam menjalani PJJ,” pungkasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X