Kisah Inspiratif Surya Sahetapy, Belajar Bangun Indonesia Inklusif hingga ke Amerika

Kompas.com - 26/10/2020, 16:39 WIB
Potret Panji Surya Sahetapy selaku mahasiswa Tuli saat mendapatkan gelar diploma (D3) dari Rochester Institute of Technology (RIT), National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat pada 2019 jurusan Kebijakan Publik dengan predikat cum laude. DOK. INSTAGRAM SURYASAHETAPY DAN RAYSAHETAPY Potret Panji Surya Sahetapy selaku mahasiswa Tuli saat mendapatkan gelar diploma (D3) dari Rochester Institute of Technology (RIT), National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat pada 2019 jurusan Kebijakan Publik dengan predikat cum laude.

KOMPAS.com – Panji Surya Sahetapy merupakan salah satu insan tuli yang mengembangkan dirinya hingga berkuliah di Amerika demi membangun Indonesia menuju inklusif.

Dalam konteks perjuangan Surya, ia ingin berkontribusi untuk membangun Indonesia yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Hal ini dipicu oleh pengalamannya saat bersekolah sejak TK hingga SMP.

Baca juga: Mengintip 4 Kampus Aktor Drama Korea dengan Bayaran Paling Mahal

Pada awalnya, pemuda berusia 26 tahun ini masuk jenjang TK dan SD di sekolah khusus bagi penyandang disabilitas pendengaran.

“Aku masuklah sekolah tuli SD itu dan ada beberapa guru yang mengatakan tidak ada mata pelajaran bahasa Inggris sehingga aku keluar dari sana dan tetap berusaha sampai SMP, masuklah aku ke sekolah umum,” cerita Surya menggunakan bahasa isyarat pada Sabtu (24/10/2020).

Melalui web seminar bertajuk “ Disabilitas Muda untuk Indonesia Inklusi”, Surya mengatakan bahwa ia ingin belajar bahasa Inggris karena sejak kecil ia kerap mendapati tamu yang datang ke rumahnya dengan bahasa asing tersebut, tetapi ia tidak mengerti.

Namun, ketika Surya masuk ke SMP umum, ia merasa ada banyak hambatan, tidak seperti sekolah khusus penyandang disabilitas pendengaran.

“Kemudian aku sempat ikut home schooling (sekolah di rumah) dan terlibat dengan komunitas tuli banyak sekali. Ternyata banyak sekali kesempatan pendidikan yang aku lihat sangat berbeda antara teman tuli dan teman dengar,” lanjutnya.

Dari bertemu dengan teman-teman tuli lainnya, Surya pun ingin tahu bagaimana rupanya pendidikan yang layak dan baik bagi penyandang disabilitas di negara-negara lain.

“Aku mau kuliah di luar negeri,” imbuh putra dari Dewi Yull dan Ray Sahetapy ini.

Belajar ke Amerika untuk Indonesia

Namun, Surya menyadari bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X