Sebelum Diproduksi Akhir Tahun, GeNose UGM Uji Diagnostik

Kompas.com - 27/10/2020, 05:07 WIB
Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Badan Intelejen Negara, TNI AD, dan pihak swasta mengembangkan alat deteksi Covid-19 yang disebut GeNose. DOK. KEMENRISTEKUniversitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Badan Intelejen Negara, TNI AD, dan pihak swasta mengembangkan alat deteksi Covid-19 yang disebut GeNose.
|

KOMPAS.com - Alat kesehatan terbaru yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada ( UGM), GeNose C19 atau Gadjah Mada Electronic Nose kini memasuki tahap uji diagnostik.

Alat deteksi cepat gejala Covid-19 hanya dengan embusan nafas ini direncanakan diproduksi pada akhir tahun. Namun, alat yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., dan tim harus diuji diagnostik.

Menurut Kuwat, alat ini sudah mendapatkan izin dari Kemenkes untuk segera menjalani uji diagnostik di 9 rumah sakit mitra salah satunya adalah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

Untuk itulah pihaknya melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama uji diagnostik GeNose C19 antara UGM dengan RS Sardjito, Senin (26/10/2020).

Baca juga: Webinar UGM: Begini Cara Meraih Peluang Kerja Saat Pandemi

"Kita ingin nantinya harganya bisa lebih murah mungkin agar niat sosialnya untuk bantu (penanggulangan) covid ini bisa sampai," ujarnya seperti dikutip dari laman UGM.

Disetarakan PCR

Dijelaskan, desain uji diagnostik berupa cross sectional dan triple blinded. Sedangkan rekrutmen subjeknya adalah multicenter consecutive sampling hingga tercapai jumlah sampel berimbang antara kelompok positif Covid-19 dan negatif Covid-19.

Pada tahap awal penerapan GeNose C19 akan difungsikan sebagai alat screening Covid-19. Sambil dievaluasi akurasi, sensitivitas dan spesifisitasnya maka diharapkan dapat ditingkatkan menjadi alat diagnostik Covid-19 yang disetarakan dengan swab/PCR.

Salah satu anggota tim peneliti lainnya, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, PhD., mengatakan dalam uji diagnostik ini setiap pasien akan diambil sampel nafas dan sampel swab nasofaring secara bersamaan.

Ditargetkan 1.500 sampel yang diuji selama tiga minggu dimana 10 persen dari sampel tersebut benar-benar merupakan pasien yang positif Covid-19.

"Kita tidak tahu sampel pasien yang diambil ini positif atau negatif supaya tidak terjadi penyimpangan pada penelitian uji diagnostik," katanya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X