Kompas.com - 13/11/2020, 16:25 WIB
Ilustrasi anak belajar shutterstockIlustrasi anak belajar

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar masih harus dilakukan dari rumah. Sudah sekitar 9 bulan lamanya anak-anak tak bisa bersekolah dan berinteraksi dengan teman-teman.

Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (IKK-Fema) Yulina Eva Riany menyebut kebijakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah bagi seluruh siswa di Indonesia menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa dan orang tua siswa di seluruh Indonesia.

Eva memaparkan, di Indonesia sendiri implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah berdampak signifikan pada kesehatan mental para siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi.

Baca juga: Hari Ayah Nasional 2020, Cara Ayah Menjadi Sahabat Anak Belajar

Risiko kesehatan mental selama PJJ

Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh satgas COVID-19 (BNPB 2020), terang Eva, menunjukkan bahwa 47 persen anak Indonesia merasa bosan di rumah.

Sementara itu, 35 persen merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15 persen anak merasa tidak aman, 20 persen anak merindukan teman-temannya dan 10 persen anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di dunia, dalam penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei Cina serta melibatkan 2.330 anak sekolah, membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa tanda-tanda tekanan emosional.

Bahkan penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukkan bahwa 22,6 persen dari anak-anak yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18,9 persen mengalami kecemasan.

Baca juga: Berapa Usia Ideal Anak Belajar Bahasa Inggris?

Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72 persen anak-anak Jepang merasakan stres akibat Covid-19.

Hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan bahwa 7,1 persen anak-anak dalam kelompok usia 3 hingga 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan dan sekitar 3,2 persen pada kelompok usia yang sama menderita depresi.

Sekolah hadirkan fasilitas kesehatan mental

Eva mengatakan, melihat fenomena berbagai masalah kesehatan mental yang terjadi pada anak dan remaja di Indonesia di masa pandemi, diperlukan upaya strategis dalam mengevaluasi sistem PJJ sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi anak dan remaja.

"Penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui sekolah merupakan hal strategis yang perlu diperkuat di era pandemi saat ini," paparnya seperti dilansir dari laman IPB University.

Baca juga: Pakar Nyamuk IPB: Nyamuk Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu di Dunia

"Dengan adanya penyediaan layanan ini, baik online maupun offline, baik melalui masyarakat maupun konseling sebaya, harapannya masyarakat dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan."

Penyediaan layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja serupa telah diimplementasikan di berbagai negara dan berhasil menurunkan berbagai permasalahan terkait yang dialami oleh anak dan remaja akibat pandemi ini.

"Sebagai contoh, pemerintah China, Australia, maupun Jepang secara intensif menyediakan layanan konseling telepon (hotline), online, maupun offline bagi masyarakatnya sebagai pertolongan pertama pada masalah kesehatan mental di negara tersebut," paparnya.

Sehingga, permasalahan kesehatan mental kelompok rentan, khususnya anak dan remaja dapat teratasi dengan baik sebelum menyebabkan efek yang lebih serius.

Baca juga: Beasiswa Belajar Data Science dari DQLab UMN, Terbuka untuk Umum

Optimalkan peran keluarga

Eva juga memandang keluarga memiliki peran dan tanggung jawab utama dalam menyediakan bimbingan yang baik dalam proses belajar anak di rumah dan menjaga kesehatan mental anak selama pandemi.

Penguatan fungsi keluarga dalam mengasuh anak serta mendampingi proses belajar jarak jauh di rumah menjadi sebuah hal vital yang harus dilakukan selama pandemi.

Keluarga sebagai pihak yang paling tidak tersiapkan dalam menghadapi berbagai problematika selama pandemi adalah pihak yang paling strategis untuk dapat terus didampingi, baik oleh pemerintah maupun berbagai lembaga nonpemerintah lainnya.

Eva berkesimpulan bahwa pendampingan keluarga melalui penguatan kapasitas keluarga dengan implementasi strategi positif (seperti mendampingi anak belajar online di rumah) serta mengindentifikasi berbagai indikator permasalahan mental pada anak dipercaya merupakan cara efektif untuk meminimalisasi permasalahan terkait anak dan remaja di masa pandemi ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.