Program Pintar
Praktik baik dan gagasan pendidikan

Kolom berbagi praktik baik dan gagasan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kolom ini didukung oleh Tanoto Foundation dan dipersembahkan dari dan untuk para penggerak pendidikan, baik guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, dan pemangku kepentingan lain, dalam dunia pendidikan untuk saling menginspirasi.

Dukung "Mas Menteri" Menghapus "Dosa Intoleransi" Pendidikan Kita

Kompas.com - 29/01/2021, 14:55 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Semboyan itu perlu dikuatkan dan diwariskan kepada seluruh generasi penerus bangsa. Agar di Indonesia dapat terwujud harmonisasi dalam kebhinnekaan atau yang sering diusung dengan jargon harmony in diversity.

Guru sebagai perancang pembelajaran perlu mempersonalisasi pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik peserta didik dan sesuai dengan situasi sosial budaya yang ada di sekitarnya.

Pembelajaran berpikir reflektif

Setidaknya ada 2 model pembelajaran dan pelatihan guru di masa pandemi yang bisa diterapkan untuk membiasakan siswa dalam menerima kebhinnekaan.

Salah satunya "Reflective Learning" sebagai model penanaman karakter toleransi di mana guru menyajikan pembelajaran yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk berpikir reflektif mengenai kebhinnekaan.

Apabila terjadi proses berpikir reflektif pada diri peserta didik, maka mereka akan dapat memahami, menganalisis, mengevaluasi, serta mencari solusi terhadap permasalahan kebhinnekaan yang ada di Indonesia, yang kemudian diharapkan muncul karakter toleransi secara simultan pada diri peserta didik.

Guru dapat memancing peserta didik untuk berpikir reflektif terkait kebhinnekaan Indonesia dalam pembelajaran.

Baca juga: Kemendikbud: Ada Sanksi Tegas Pelaku Intoleransi di Sekolah

  • Peserta didik diajak berpikir apa keuntungan dan kerugian yang diperoleh akibat kebhinnekaan di Indonesia?
  • Bagaimana cara mewujudkan keharmonisan dalam kebhinnekaan Indonesia?
  • Apa yang harus dilakukan agar kebhinnekaan menjadi kekuatan dan kekayaan bagi bangsa Indonesia?

Apabila peserta didik dapat berpikir reflektif seperti di atas, maka secara tidak langsung akan memiliki pemahaman mengenai kebhinnekaan yang kemudian dengan penguatan-penguatan dari guru dapat memunculkan sikap dan keterampilan toleransi pada diri peserta didik.

Dengan terkembangkannya karakter toleransi maka kebhinnekaan bangsa Indonesia akan menjadi kekayaan bangsa yang tidak perlu dikhawatirkan memicu konflik dalam kehidupan.

Pembelajaran karakter toleransi

Guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan karakter peserta didik, karena gurulah yang memegang kendali pembelajaran. Untuk dapat membelajarkan karakter toleransi, guru harus memiliki serangkaian pengetahuan dan keterampilan kebhinnekaan dan toleransi.

Oleh karena itu diperlukan pelatihan memperkuat kebhinnekaan bagi guru untuk membelajarkan karakter toleransi sebagai upaya resolusi konflik.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.