Mendobrak Pengajaran Dogmatis dengan Pendidikan Bernalar

Kompas.com - 08/02/2021, 19:33 WIB
Lusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya DOK. TANOTO FOUNDATIONLusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya

KOMPAS.com - Sekitar dua tahun yang lalu, pada satu kedai kopi di pasar Cihapit, Bandung, saya berkesempatan diskusi dengan guru besar jurusan matematika ITB Prof. Iwan Pranoto. Saya sempat bercerita mengenai betapa tidak becusnya saya dalam pelajaran matematika.

Sejak kecil, saya sudah terpapar cerita-cerita mengenai pelajaran matematika yang tidak mudah, dan guru-guru matematika yang terkenal angker.

Orangtua dan kedua kakak saya tidak ada yang menyukai matematika. Bahkan kata Ibu saya, beliau bertemu Bapak saya karena bolos pelajaran matematika. Saking takutnya bertemu matematika lagi, ibu saya memutuskan untuk tidak lanjut kuliah.

Walau sebenarnya, saat SD, nilai matematika saya tergolong lumayan, mungkin karena hitungannya juga masih sangat dasar. Baru menginjak SMP dan SMA, saya menyadari mungkin saya memang tidak punya bakat dalam ketrampilan berhitung, dalihnya karena ‘keturunan’.

Karena merasa terbelakang dalam pelajaran ini, saya minta ke orangtua untuk mencari guru les privat matematika, yang menurut saya cukup efektif karena sangat membantu dalam proses belajar secara intens.

Baca juga: Mengembalikan Roh Pendidikan lewat Pedagogi Belajar Daring dari Rumah

 

Bagi saya saat itu, matematika adalah ilmu berhitung dengan rumus-rumus pasti yang harus dihapal. Pelajaran dengan orientasi hasil, prosedurnya pasti, dan begitu pula dengan jawabannya.

Bila tidak hapal rumusnya, atau lupa tahapan menyiasati hubungan antar bilangan, sudah pasti celaka. Guru matematika tidak mau tahu.

Murid yang tidak bisa meneruskan tahapan dalam rumus yang diajarkannya, harus berdiri di depan kelas sambil memegang kapur tulis, sampai jam pelajarannya berakhir, atau bila sedang beruntung, teman sekelas yang pandai akan menggantikan posisi untuk menyelesaikan soal tersebut.

Barangkali, bukan saya saja yang pernah merasakan pengalaman berdiri di depan papan tulis karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika tersebut.

Sekarang, ketika pekerjaan saya adalah mengajar dan mulai memahami bagaimana metode belajar, saya mulai menyadari ketertinggalan saya pada pelajaran ini bukan hanya berasal dari kemampuan saya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X