Muhammad Nur Rizal GSM: Pandemi Mestinya Jadi Titik Balik Paradigma Pendidikan

Kompas.com - 09/03/2021, 22:01 WIB
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, dalam acara Kita Bicara yang digelar TVRI Yogyakarta pada Selasa, 9 Maret 2021. DOK. YOUTUBE/TVRI YOGYAKARTAPendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, dalam acara Kita Bicara yang digelar TVRI Yogyakarta pada Selasa, 9 Maret 2021.

KOMPAS.com - Hampir setahun program belajar dari rumah (BDR) sebagai dampak pandemi global Covid-19 telah menimbulkan dampak dalam dunia pendidikan Indonesia. Salah satu kekhatiran muncul adalah terjadinya learning proverty.

Learning poverty adalah kondisi ketidakmampuan anak pada usia 10 tahun dalam membaca dan memahami cerita sederhana.

Bank Dunia memprediksi learning poverty secara global akan meningkat sebesar 10 persen dan Indonesia mungkin akan mengalami dampak lebih besar, khususnya di daerah Indonesia timur.

Data bank dunia khusus di Indonesia, learning poverty akan terjadi sebesar 35 persen karena di akhir SD tapi tak bisa membaca.

Data ini diungkapkan oleh pengagas Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, dalam acara Kita Bicara yang digelar TVRI Yogyakarta pada Selasa, 9 Maret 2021.

"Jika hal ini terus terjadi, akan berdampak pada kualitas membaca atau memahami teks anak-anak dan dalam jangka panjang akan menurunkan kemampuan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja," ujar Rizal.

Baca juga: BPIP Minta Kemendikbud Masukan Pancasila dalam Kurikulum

Mewaspadai learning poverty

Selain itu, Rizal juga mengungkap fakta lain sebagai dampak dari PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang perlu diwaspadai. Rizal mengutip data dari KPAI yang menyebut 79,9 persen proses pembelajaran PJJ dilakukan tanpa interaksi sehingga mengakibatkan anak stres dan lelah.

"Guru hanya memberikan dan menagih tugas tanpa ada interaksi belajar bahkan tidak ada penjelasan materi. Alpa interaksi ini menyebabkan anak kebingungan dalam mengerjakan tugas," ungkapnya.

Hal ini mengakibatkan, tambahnya, menyebabkan 76,7 persen anak menyatakan tidak senang dengan PJJ.

Rizal mengatakan, selama PJJ ini masih berorientasi pada akademik dan tugas, hal ini mengakibatkan kebutuhan koneksi internet dan infrastruktur gawai sangat tinggi. Padahal anak miskin atau di desa memiliki permasalahan dengan hal tersebut.

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X