Kompas.com - 20/04/2021, 10:07 WIB
Ilustrasi diabetes. Penderita diabetes di Indonesia berada di peringkat 7 dunia. Indonesia waspada diabetes, terutama di masa pandemi Covid-19. SHUTTERSTOCK/Proxima StudioIlustrasi diabetes. Penderita diabetes di Indonesia berada di peringkat 7 dunia. Indonesia waspada diabetes, terutama di masa pandemi Covid-19.
|

1. DM tipe 1 biasanya terjadi pada anak-anak dan juga terjadi kerusakan total pada pankreas. Sehingga ketika makan adanya glukosa darah itu tidak mampu diubah menjadi energi.

2. DM tipe 2 terjadi akibat pola hidup yang tidak baik seperti:

  • terlalu banyak makan makanan manis
  • jarang olahraga
  • kelebihan berat badan
  • merokok

Baca juga: Webinar UNS: Tips Bangun Personal Branding bagi Pencari Kerja

3. Diabetes kehamilan yang hanya terjadi pada kasus ibu hamil. Meskipun setelah kehamilan selesai dan bisa kembali normal. Namun, diabetes dapat muncul kembali khususnya DM tipe 2.

4. Diabetes karena faktor lain misalnya infeksi, radiasi, dan lain-lain.

Menurut Nurdina, kadar gula yang mengindikasi terjadinya diabetes yaitu HbA1C ≥ 6,5%, Gula Darah Puasa (GDP) ≥ 126 mg/dl, dan Gula Darah Sewaktu ≥ 200mg/dl.

Faktor penyebab yang lain

Faktor risiko terjadinya penyakit diabetes ada yang tidak dapat dimodifikasi seperti genetik, usia, ras, dan etnik.

Untuk faktor risiko yang dapat dimodifikasi diantaranya:

  • indeks masa tubuh ≥ 23 kg/m2
  • males gerak
  • memiliki tekanan darah tinggi
  • makan dan minuman yang kurang sehat atau biasa disebut junkfood
  • merokok dan minum-minuman berakohol

Tanda dan gejala penyakit DM antara lain:

  • sering buang air kecil terutama pada malam hari
  • mudah haus
  • penglihatan buram
  • merasa lemah dan letih
  • merasa lapar terus tetapi berat badan menurun
  • luka lama sembuh terutama pada bagian kaki

Baca juga: Tips Tingkatkan Imun ala Pakar Unair

Upaya pencegahan

Pencegahan DM dapat dilakukan dengan melakukan:

  • aktivitas fisik secara teratur
  • manajemen nutrisi
  • cek kesehatan berkala
  • menghindari faktor risiko
  • mendapatkan edukasi kesehatan

Untuk aktivitas fisik dengan waktu 150 menit/minggu dengan frekuensi 3-4x dan intensitasnya sedang atau ringan bertipe latihan aerobik seperti berjalan, jogging, bersepeda, dan berenang.

"Perlu diingat saat berolahraga cek berkala denyut jantung dengan rumus 220 dikurangi usia, jika melebihi denyut nadi maksimal maka olahraga harus diberhentikan," tandas Nurdina.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.