Kompas.com - 20/04/2021, 16:00 WIB
Ilustrasi anak bermain gawai. PEXELS/KATERINA HOLMESIlustrasi anak bermain gawai.

KOMPAS.com - Ada yang unik dari karya penyanyi muda Tanah Air Ardhito Pramono, di single terbarunya. Saat merilis single pada Rabu (14/4/2021), ternyata single Something New tidak dikhususkan bagi pendengar dewasa.

Melainkan, lagu anak-anak yang menjadi pembuka album pendek bertajuk Semar & Pasukan Monyet.

Bukan tanpa alasan, pelantun Fine Today ini menggarap proyek itu. Alasannya, ia resah dengan banyaknya anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa. Hal ini menurutnya tidak baik bagi psikis mereka, terutama yang masih berusia 1 hingga 6 tahun.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Minuman Penurun Gula Darah Berbasis Rempah

Keresahan tersebut tentu bukan bahasan baru. Sejak lama anak-anak di Indonesia sudah terpapar lagu-lagu dewasa. Lantas, bagaimana sebenarnya pemilihan lagu yang tepat bagi psikologis dan perkembangan anak?

Dosen Psikologi Perkembangan FK Universitas Sebelas Maret (UNS) Berliana Widi Scarvanovi, mengatakan anak-anak di bawah usia remaja memang tidak disarankan untuk diperdengarkan atau menyanyikan lagu dewasa. Khususnya lagu bertema percintaan dalam konteks laki-laki dan perempuan.

Secara psikologi ada tahapan perkembangan mulai dari bayi hingga dewasa tua. Di mana pada setiap masa perkembangan tersebut ada target-target dan standar-standar yang harus dicapai. Anak usia sekian seharusnya diberikan stimulus mengenai apa saja yang bisa dilakukan seusianya dan  optimalisasinya harus di ranah mana, dan sebagainya.

Di usia anak-anak, mereka memang lebih banyak ke arah eksplorasi, banyak ke arah belajar, ke arah tema-tema yang memang masih berkaitan dengan dirinya sendiri atau manajemen diri, dan bagaimana penguasaan terhadap lingkungan.

Baca juga: Peneliti IPB: Tanaman Herbal Ini Berkhasiat Redakan Asam Urat

“Misalkan lagu mengajarkan bangun pagi, membersihkan tempat tidur sendiri. Lalu ‘Kalau kau suka hati tepuk tangan’ untuk pengenalan emosi sejak dini. Sehingga kalau ada stimulasi entah itu dalam bentuk lagu, film, dan lainnya ya yang harus berkaitan dengan hal-hal itu. Tidak boleh lagu-lagu yang belum sesuai dengan tantangan yang seharusnya dihadapi pada masa anak-anak,” jelasnya dilansir dari laman uns.ac.id.

Perihal dampak, Berliana menyebut pada awal masa kanak-kanak yakni usia balita sampai sekitar kelas 1 SD, mereka belum begitu mengerti apa yang didengarkan atau nyanyikan. Mereka baru sampai pada tahap imitasi atau meniru. Lalu, apa dampak seriusnya? 

Gangguan pemahaman

Akan tetapi, semakin lama kognitif anak akan semakin matang dan berkembang pada level tertentu. Anak-anak pun akan mulai menanyakan diksi-diksi yang ada dalam lagu tersebut, seperti kata ‘cinta’ atau ‘pacar’ itu apa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X