Kompas.com - 20/04/2021, 21:35 WIB
Gelar wicara digelar Perpusnas bertajuk ?Integrasi Penguatan Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial? (20/4/2021). DOK. PERPUSNASGelar wicara digelar Perpusnas bertajuk ?Integrasi Penguatan Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial? (20/4/2021).

KOMPAS.com - Bappenas memberi dukungan besar kepada Perpusnas untuk mengintegrasikan sisi hulu dan hilir literasi dalam konteks pemulihan ekonomi dan reformasi, terutama di masa pandemi ini.

Dukungan ini disampaikan Subandi Sardjoko, Deputi Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas yang menilai literasi, kreativitas, dan inovasi sebagai pilar penting perwujudan masyarakat Indonesia yang maju dan berdaya saing.

“Secara khusus di masa pandemi ini, bagaimana peran literasi sangat penting, tidak hanya soal membaca, tapi juga mengaktualisasikan pengetahuan itu untuk meningkatkan kehidupan,” katanya," ujar Subandi.

Pentingnya peran literasi sebagai daya ungkit ekonomi dan sosial mengemuka dalam gelar wicara yang digelar Perpusnas bertajuk “Integrasi Penguatan Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial” (20/4/2021).

Selain itu, Bappenas juga mendorong gerakan literasi berbasis iklusi sosial, di mana pengetahuan yang diperoleh dari bahan bacaan bisa langsung dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari guna mendapatkan manfaat ekonomi.

Baca juga: Pakar Unpad: Generasi Milenial Perlu Kuasai Literasi Digital

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

 

Bukan malas baca

Dalam kesempatan sama, Kepala Perpustakaan Nasional (Kaperpusnas), Muhammad Syarif Bando kembali menegaskan Indonesia hanya kekurangan bahan bacaan, bukan malas membaca.

Ia mengungkapkan data, penduduk Indonesia berdasarkan data BPS kurang lebih 270 juta jiwa, sementara jumlah bahan bacaan yang Perpusnas data di semua jenis perpustakaan umum (bukan di sekolah, perguruan tinggi, atau di rumah) adalah 22 juta.

"Artinya, rasio buku dengan total penduduk belum mencapai satu buku per orang/tahun 0,098. Sedangkan, di benua Eropa dan Amerika rata-rata sanggup menghasilkan 20-30 buku per orang setiap tahun," ungkapnya.

"Angka ini cukup menguatkan bahwa orang Indonesia bukan malas membaca, tapi ketersediaan buku yang kurang," tegas Syarif Bando.

Ie menjelaskan, anak-anak tidak membaca buku karena berbagai faktor. Pertama, akses ke buku cukup sulit. Karena bila masyarakat disodori buku-buku yang sesuai, mereka akan sangat senang membaca.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.