Kompas.com - 18/06/2021, 09:00 WIB
Buku The Art of Contract Drafting terbitan Elex Media Komputindo DOK. Elex Media KomputindoBuku The Art of Contract Drafting terbitan Elex Media Komputindo

Penulis: Widya Permata Sari | Editor: Elex Media Komputindo

KOMPAS.com - Setiap hubungan kerja sama selalu memerlukan kontrak atau perjanjian untuk memastikan bahwa kerja sama tersebut dapat berjalan sesuai dengan kesepakatan di awal.

Oleh karena itu, kontrak yang baik harus dapat berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kewajiban dan mekanisme penyelesaian sengketa yang baik bagi kedua pihak. Hambatan bagi para pebisnis adalah bagaimana cara membuat kontrak kerja sama yang mengakomodir kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Banyak pihak meremehkan hal-hal yang seharusnya diperhatikan karena kurangnya pengetahuan mengenai kontrak. Contohnya, pihak ekspedisi terlambat enam jam dalam pengiriman barang, lalu pada saat tiba dan ditimbang terjadi penyusutan.

Baca juga: Ragam Buku Minggu Ini: Belajar Kelola Bisnis dan Investasi dari Nol

Dalam perjanjian tidak diatur mengenai dalam hal apa suatu keterlambatan dapat dipandang sebagai kerugian yang wajib diganti oleh pihak ekspedisi. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas penggantian kerugiannya? Berapa nominal yang wajib dibayarkan? Apakah pihak ekspedisi akan serta-merta menyepakati nominal penggantian kerugian yang diajukan oleh pemilik barang?.

Tidak tercantumnya tata cara penggantian kerugian pasti menimbulkan sengketa di antara kedua pihak di kemudian hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal tersebut dapat diminimalisir apabila Anda memiliki kontrak kerja sama yang secara jelas mengatur cara mengatasi risiko-risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Jika Anda pada posisi pemilik barang, apa yang bisa Anda lakukan selain meratapi kerugian tersebut? Pasal 1238 KUH Perdata menjelaskan bahwa pihak yang haknya dilanggar dapat memberikan teguran kepada pihak yang melakukan ingkar janji atau sering disebut sebagai somasi.

Namun, dengan dikirimkannya somasi tidak menjamin kerugian Anda akan dibayar. Apalagi, jika somasi tersebut dikirimkan secara mandiri tanpa melalui bantuan kantor hukum yang tepercaya.

Baca juga: Membedah Perilaku Ekonomi oleh Pemenang Nobel di Buku Misbehaving

Kerancuan semacam itu telah dijawab dengan lugas oleh Michael Sugijanto, B.A., S.H., M.H. melalui buku The Art of Contract Drafting.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.