Kompas.com - 09/07/2021, 15:00 WIB
Novel Lebih Senyap dari Bisikan oleh Andina Dwifatma DOK. Gramedia Pustaka UtamaNovel Lebih Senyap dari Bisikan oleh Andina Dwifatma

Penulis : Teguh Afandi | Editor:Bidang Sastra Gramedia Pustaka Utama

KOMPAS.com - Dimana tulisan seorang perempuan dimuat, hampir selalu muncul komentar yang menganggap remeh gagasan dalam tulisan perempuan.

Tulisan seorang perempuan dianggap terlalu sentimentil, terlalu domestik, sekadar curhat, atau tidak memiliki gagasan besar yang mengubah dalam karya.

Komentar-komentar ini kerap ditujukan kepada penulis perempuan dan karya mereka yang terus dibanding-bandingkan dengan penulis laki-laki.

Salah satu peraih nobel sastra tahun 2013, Alice Munro sendiri mengakui dalam salah satu wawancara, bahwa perempuan (dan tulisannya) selalu diidentikkan dengan urusan domestik dan laki-laki berhak melakukan hal besar di luar urusan rumah tangga. Namun, apakah hal tersebut harus diimani seratus persen?

Baca juga: Novel Retrocession Cocok bagi Kamu Si Single Fighter

Nuansa demikianlah yang dipotret oleh Andina Dwifatma dalam novel terbarunya, Lebih Senyap dari Bisikan, yang terbit pada 30 Juni 2021. Novel ini adalah comeback Andina setelah novel perdananya, Semusim, dan Semusim Lagi yang terbit tahun 2013.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di novel kedua, aku fokus dengan ibu karena pengalaman itu yang dekat denganku dan aku merasa bisa menuliskannya dengan lebih baik," ujar Andina dalam salah satu unggahan di akun media sosial miliknya.

Amara dan Baron, tokoh utama dalam novel ini dikisahkan sedang memasuki tahun pernikahan yang rentan pertanyaan kenapa belum punya anak. Amara dan Baron bukan hanya mulai terusik kehidupan pribadi mereka, tetapi turut terbawa dan mengikuti saran-saran ajaib dari orang luar agar cepat dapat momongan.

Keduanya melakukan banyak hal yang kadang tidak masuk akal dan di luar nalar medis. Namun, perlahan mulai timbul bagaimana masyarakat menafikan posisi setara antara Amara dan Baron, antara istri dan suami.

Baca juga: Mengenal Quarter Life Crisis Generasi Muda dan Kiat Menghadapinya

Kenyataan bahwa Amara-lah yang kerap dicecar pertanyaan mengapa belum punya sambil mengelus perut Amara, seolah perempuan-istri satu-satunya yang bertanggung jawab dan boleh dipersalahkan atas keterlambatan mereka memiliki keturunan.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.