Kompas.com - 09/07/2021, 15:00 WIB

Dijadikan sasaran ketidakmujuran membuat Amara tidak hanya didera keletihan fisik sebab berusaha memiliki anak, juga gempuran mental yang tidak kalah hebat. Jenis tekanan kedua ini yang oleh Baron dan juga masyarakat luas hampir tidak dihiraukan.

Amara pada akhirnya hamil, kemudian lahirlah Yuki. Posisi perempuan dalam hubungan rumah tangga nyatanya tidak semudah dalam kamus keluarga ideal.

Suami-istri memiliki anak akan hidup bahagia, demikian utopia dalam masyarakat kita. Baron begitu mudahnya meninggalkan pengasuhan Yuki kepada Amara, dengan dalih pekerjaan. Seolah suami hanya bertugas membuahi sel telur, sedangkan mulai dari enegnya muntah di awal kehamilan, letihnya mengandung, capeknya psikis sebab perubahan fisik, sakitnya melahirkan, dan menyusui diserahkan semua kepada perempuan.

Sekali lagi, selalu ada demarkasi bahwa suami di luar mengurus hal besar, dan domestik itu pekerjaan khas perempuan.

Dunia dan persoalan yang dituliskan Andina memang tampak sangat personal. Namun bukan berarti hal tersebut bisa dinihilkan dalam khazanah sastra kita. Apalagi dianggap remeh dan tidak penting. Bila sastra adalah gambaran persoalan manusia, dan tentu persoalan manusia tidak melulu hal-hal grande yang bombastis. Hal-hal yang terjadi di rumah, di keseharian juga perlu digaungkan.

Baca juga: Soul Travellers, Cerita 39 Anak Muda Indonesia Menjelajah Dunia

Terlebih pergolakan batin Amara mewakili apa yang terjadi dalam fase hidup perempuan. Harus diakui, dunia perempuan tentulah dunia yang hanya bisa dipahami dan dituliskan dengan apik oleh perempuan. Dan novel Lebih Senyap dari Bisikan ini telah membawa perkara yang banyak orang anggap sepele menjadi persoalan besar dan harus diperhatikan.

"Mungkin memang ada hal-hal yang hanya bisa ditulis oleh pengarang perempuan, misalnya bagaimana rasa sakitnya melahirkan, penuh perjuangannya menyusui, atau perasaan sayang yang hampir-hampir enggak masuk akal dari seorang ibu untuk anaknya,” tambah Andina.

Terbitnya novel ini selain mencoba mengamplifikasi persoalan perempuan yang mungkin tidak banyak dipedulikan orang, juga bermaksud melawan stigma bahwa hanya tema besar yang perlu diperhatikan. Membawa urusan domestik ke dewan pembaca umum adalah hentakan kepada pembaca.

Bagaimana hal-hal yang dekat lebih sering terlewat dan diabaikan oleh mata sastra kita. Bila di kehidupan nyata perkara ini dianggap sepele, maka sastra harus menjadikannya utama. Agar tidak ditimbun senyap dan sekadar bisik-bisik tanpa perhatian.

Novel ini juga bisa dibaca sebagai satire. Ia dengan sengaja menebalkan garis demarkasi antara suami dan istri. Bahwa perempuan mengurusi rumah tangga, dan laki-laki urusan lebih besar di luar rumah.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.