Kompas.com - 17/11/2021, 11:54 WIB

David, misalnya, menyebutkan memilih Amerika karena mempertimbangkan masa studi yang menurutnya cukup untuk mempelajari hal-hal yang memang ingin dipelajari dalam kurikulum.

“Alasan saya memilih MBA di Amerika Serikat yang pertama adalah karena programnya dua tahun. Melihat dari lama studi, saya rasa ini cukup untuk mempelajari hal-hal yang ingin saya pelajari,” kata David.

Selain itu, hal lain yang membuatnya mantap studi MBA di Amerika adalah integrasi antara sekolah bisnisnya dengan institusi secara umum seperti misalnya Yale School of Management dengan Yale University.

“Hal ini penting mengingat mempelajari bisnis saja tidak cukup. Kita juga perlu mempelajari bidang yang akan kita tekuni. Ketika kita ingin membuat usaha di bidang lingkungan, misalnya tentang keberlanjutan, kita bukan hanya perlu mempelajari ekonominya tetapi juga perlu belajar tentang lingkungan itu sendiri,” jelas David mencontohkan.

Baca juga: 5 Beasiswa S2 Luar Negeri yang Terima IPK di Bawah 3

Sementara itu, Jordi membagi tips memilih sekolah yang tepat. Menurutnya, setidaknya ada enam kriteria yang dapat dijadikan dasar pemilihan, seperti area keunggulan sekolah, kurikulum, fasilitas, pengalaman karier yang ingin dibangun, kehidupan sosial, serta jaringan setelah sekolah.

"Teman-teman perlu mencari tahu keunggulan sekolahnya dan disesuaikan dengan tujuan yang ingin didapat dari program MBA ini,” terang Jordi.

Pengalaman selama studi di Amerika Serikat baik pengalaman akademis maupun nonakademis juga dibagikan oleh ketiga mahasiswa.

Diakui mereka, banyak pengalaman berkesan ketika menempuh studi, seperti pengalaman berdiskusi dengan tokoh-tokoh penting dunia dan pengalaman mengikuti berbagai gelaran penting.

David mengaku mendapatkan pengalaman global ketika dia menjalani studinya.

“Biasanya program-program MBA akan mempunyai acara seperti pertukaran, study track, atau sekedar track biasa. Ada juga pengalaman kerja yang bersifat global. Contohnya, di Yale ada Global Social Enterpreneurship di mana di sini kita jadi konsultan tapi untuk kewirausahaan sosial di negara berkembang,” ungkap David.

Baca juga: Beasiswa S2 Stanford University 2022, Kuliah Gratis dan Biaya Hidup

Terakhir, Teresa memberikan wawasan mengenai peluang bagi lulusan MBA untuk bekerja baik di perusahaan multinasional maupun di banyak perusahaan di Indonesia.

“Di sektor bisnis, biasanya perusahaan-perusahaan akan menggelar proses rekrutmen di kampus-kampus bisnis dan kebanyakan di Amerika. Tapi jika teman-teman mau bekerja di perusahaan global yang ada di Indonesia, mereka juga banyak menerima lulusan MBA,” jelas Teresa.

Sebagai informasi, rekaman siaran langsung Webinar Bianka Seri-17 dapat diakses di laman resmi Facebook Atdikbud USA dengan tautan https://bit.ly/fb-watch-bianka17 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.