Kompas.com - 26/11/2021, 10:12 WIB
Universitas Negeri Semarang (Unnes) membuka peluang bagi ribuan calon mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN 2021. Tangkap layar laman Universitas Negeri Semarang.Universitas Negeri Semarang (Unnes) membuka peluang bagi ribuan calon mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN 2021.
|

KOMPAS.com - Asia Tenggara memiliki keragaman bahasa, seni, pengetahuan dan teknologi lokal, makanan, hingga pengobatan tradisional. Maka tak heran jika banyak peneliti yang melakukan penelitian di Asia Tenggara.

Para penelitian itu datang dari berbagai negara. Tentu hanya demi melakukan penelitian tentang kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Asia Tenggara.

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Fathur Rokhman dalam pembukaan International Conference on Local Wisdom (Incolwis) dengan tema “Culture Overview in Southeast Asia”, Rabu (24/11/2021).

Baca juga: Unnes Dukung Pencegahan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi

Menurut dia, Asia Tenggara adalah laboratorium kebudayaan yang menyita perhatian dunia. Kawasan ini menjadi penting bagi para peneliti dan hasilnya masih terus dimanfaatkan untuk melihat lanskap kebudayaan pada masa lampau.

Misalnya saja pada abad ke-7, ilmuwan China, I-Tsing telah memulai ekspedisi ke Asia Tenggara, khususnya Nusantara. Sedangkan pada abad ke-12, peneliti Venesia Marco Polo mengunjungi Sumatera dan merekam budaya masyarakat di sana.

Pada abad ke-14, ilmuwan Maroko, Ibnu Battuta, juga melakukan ekspedisi serupa untuk mempelajari budaya Asia Tenggara. Selain itu, antropolog asal Amerika, Clifford Geertz, melakukan penelitian di Jawa dan Bali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tradisi meneliti ini berlanjut hingga hari ini dan salah satu penerusnya adalah Profesor George Quin, salah satu pembicara dalam konferensi ini," ujar Prof. Fathur.

Adapun acara yang diselenggarakan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. George Quinn dari Australian National University, Dr. Taeyoung Cho dari Korean Institute of Southeast Asian Studies di Korea Selatan.

Baca juga: Webinar Unas Bahas Fenomena Kependudukan di Indonesia

Ada pula Prof. Dr. Abdul Halim Ali dari University Pendidikan Sultan Idris Malaysia, dan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama dari Nanzan University Jepang.

Dijelaskan, hasil penelitian para peneliti tersebut terus digunakan sebagai referensi utama dalam penelitian-penelitian lain terkait Asia Tenggara, baik dalam konteks geografi, antropologi, maupun etnografi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.