Kompas.com - 03/01/2022, 19:17 WIB

KOMPAS.com - Di masa pergantian musim, Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi salah satu penyakit yang perlu di waspadai.

Pasalnya, kondisi rumah dan lingkungan serta datangnya musim penghujan mempengaruhi populasi nyamuk Aedes aegypti yang berisiko menularkan penyakit DBD.

Guna meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan penularan penyakit bersumber nyamuk Aedes aegypti hingga cara pengendaliannya di masa pandemi, delapan mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyelenggarakan program “Kenali Nyamuk”.

Program Kenali Nyamuk untuk pertama kali digelar di Kelurahan Pamoyanan, Bogor Selatan, khususnya di RW 09 telah terjadi sebanyak 5 kasus DBD dalam sebulan terakhir.

Baca juga: Beasiswa Pertukaran Mahasiswa ke Jepang 2022, Tunjangan Rp 14 Juta Per Bulan

“Kasusnya baru, ada 5 orang yang kena DBD, awalnya dari rumah 1 ke rumah 2 jaraknya (kasus) sebulan, terus kena rumah kontrakan, selang 2 minggu tetangga saya (paman dan ponakan) kena DBD masuk rumah sakit, tapi sekarang sudah sembuh,” ucap Lilis selaku Kader RW dalam siaran pers FKM UI.

Program ?Kenali Nyamuk?, Cara Kelompok Mahasiswi Kesehatan Lingkungan UI Tetap Bangun Kewaspadaan DBD Warga Kelurahan Pamoyanan di Masa Pandemi
Dok. Universitas Indonesia Program ?Kenali Nyamuk?, Cara Kelompok Mahasiswi Kesehatan Lingkungan UI Tetap Bangun Kewaspadaan DBD Warga Kelurahan Pamoyanan di Masa Pandemi

Situasi Kota Bogor yang sering hujan memang menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangbiakkan nyamuk sehingga dapat meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti.

Nyamuk Aedes aegypti menyukai genangan air bersih, air hujan yang tergenang berisiko menjadi tempat perindukan bagi nyamuk. Nyamuk Aedes aegypti diketahui dapat menularkan virus dengue yang mengakibatkan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue).

Baca juga: Pendaftaran Kampus Mengajar 3 Diperpanjang, Mahasiswa Segera Daftar

Karena itulah, program Kenali Nyamuk mendorong partisipasi masyarakat di kawasan Bogor untuk memperbaiki serta menjaga kondisi lingkungan setempat sehingga masyarakat mampu mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan, terutama mengenai perindukan nyamuk.

Program berhasil dilaksanakan secara campuran (hybrid) baik daring melalui WhatsApp group maupun luring melalui observasi dan intervensi lapangan.

Tim mahasiswi mengungkap, kegiatan intervensi Kenali Nyamuk memengaruhi pengetahuan masyarakat, dibuktikan dengan hasil pre dan post test yang mengalami peningkatan sebesar 13,5 persen.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.