Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio, sebagai bagian dari KG Radio Network yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Pertarungan Sengit Sura dan Baya, Fabel Cikal Bakal Nama Kota Surabaya

Kompas.com - 04/03/2022, 13:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini


Oleh: Penulis: Fauzi Ramadhan dan Ristiana D. Putri

KOMPAS.com - Ketika mendengar Surabaya, kita pasti teringat berbagai hal ikonik kota tersebut, seperti kuliner manis pedas rujak cingur, Ibu Risma Tri Maharani—Menteri Sosial era Jokowi yang pernah menjabat sebagai walikota Surabaya, atau lambang ibu kota provinsi Jawa Timur tersebut, yaitu Patung Sura dan Baya.

Penamaan kota Surabaya bukanlah tanpa makna. Dikutip dari situs Pemerintah Kota Surabaya, kata sura dan baya dalam Surabaya berarti berani dan bahaya. Secara harfiah, penamaan ini melambangkan semangat keberanian menghadapi mara bahaya yang akan datang.

Uniknya, konon penamaan sura dan baya ini juga erat kaitannya dengan cerita dongeng fabel asal Surabaya. Dalam siniar Dongeng Pilihan Orangtua bertajuk “Dongeng Asal Usul Kota Surabaya”, diceritakan Sura, ikan hiu penguasa lautan, dan Baya, seekor buaya penguasa sungai, bertarung memperebutkan wilayah ketika mencari makan.

Semua bermula dengan kebosanan Sura memakan ikan di laut setiap hari. Tak tinggal diam, ia berusaha mencari alternatif makanan lain di penjuru lautan. Sura kemudian berenang kesana kemari hingga menemukan sungai yang bermuara di laut.

Lantas, ia jadi berangan-angan bahwa di sungai terdapat banyak santapan lezat yang bisa disantap. Sura lalu memutuskan untuk pergi ke sungai esok hari.

Keesokannya, seperti yang sudah diputuskan, Sura pergi berenang menuju sungai. Ketika sudah berada di sungai, ia melihat seekor anak kijang sedang meminum air sungai dengan tenang.

Rasa lapar tak terbendung ketika Sura melihat anak kijang tersebut. Tidak perlu waktu lama, dilahaplah anak kijang tersebut oleh Sura.

Sura sangat senang melahap anak kijang tersebut. Rasa nikmat dan lezat menari-nari di lidahnya sehingga membuatnya ketagihan. Ia lalu memutuskan untuk kembali lagi ke sungai keesokan hari, lusa, dan seterusnya.

Suatu ketika, Baya merasa ada yang tidak beres di sungainya karena semakin hari semakin sulit untuk mencari makanan. Ia lantas menyelidiki penyebab keanehan ini. Ternyata, ia menemukan Sura sedang lahap menyantap seekor anak monyet.

Baca juga: Dorong Minat Berwirausaha Mahasiswa, Bank Mandiri Gelar Program Pelatihan Bisnis di Universitas Kristen Petra Surabaya

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.