Kompas.com - 01/06/2022, 18:09 WIB

Pada tahun 1912, Coen dan Betsy menegaskan kembali komitmennya untuk membantu rakyat Indonesia memperoleh kesempatan pendidikan yang baik.

Terpengaruh oleh perjuangan RA Kartini, Van Deventer, Betsy, serta teman-teman mereka, lalu akhirnya mengumpulkan dana untuk membangun empat yayasan yang bertujuan mempromosikan pendidikan di Indonesia:

  • Yayasan Kartini
  • Yayasan Van Deventer
  • Yayasan Tjandi
  • Yayasan Max Havelaar

Bila Yayasan Van Deventer berkegiatan memberikan beasiswa untuk perempuan Indonesia di jenjang sekolah menengah, maka Yayasan Max Havelaar dan Yayasan Tjandi pada saat itu memberikan dukungan berupa pinjaman bebas bunga untuk sebagian kecil mahasiswa muda Indonesia untuk belajar di Belanda.

Melalui beasiswa yang diberikan oleh kedua yayasan tersebut, ada sekitar 50 pemuda Indonesia yang berkesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi di Belanda. Adapun sumber dana beasiswa adalah sumbangan rutin donatur dan subsidi pemerintah Belanda.

Agus Salim menolak beasiswa R.A Kartini

Ada sebuah cerita lain mengenai beasiswa di zaman Hindia Belanda ini. Cerita tentang RA Kartini. Ia punya keinginannya untuk menempuh pendidikan sangat kuat. Dia ingin ke Belanda.

Peluangnya mengecap pendidikan di Belanda sempat terbuka setelah perkenalannya dengan Jacques Henrij Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. JH Abendanon menerima permohonan beasiswa dari RA Kartini itu.

Baca juga: Kemenkomarves-LPDP Buka Beasiswa S2 Bidang Metalurgi

Namun, setelah berbagai pertimbangan, Kartini membatalkan beasiswa tersebut dan memberikannya pada Agus Salim yang dikemudian hari dikenal sebagai salah seorang pahlawan. Dia juga merupakan pemimpin Sarekat Islam.

Memang Agus Salim sendiri, saat itu sedang berusaha mendapatkan beasiswa ke Belanda. Namun, niat baik Kartini itu ditolak Agus Salim sebab ia menganggap, pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Dia menilai ada diskriminasi di dalamnya. Agus Salim menolak beasiswa itu.

Prioritaskan perempuan

Sampai saat ini, Yayasan Van Deventer yang telah berubah nama menjadi Yayasan Van Deventer-Maas Indonesia (VDMI) dan berlokasi dan Yogyakarta. VDMI memiliki tujuan utama untuk meningkatkan penyediaan pendidikan, dan pengembangan serta pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan untuk perempuan Indonesia.

VDMS menyediakan sekitar 800 beasiswa setiap tahun untuk muda-mudi Indonesia yang berbakat dari latar belakang keluarga sederhana di 35 universitas dan satu sekolah menengah.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.