Kompas.com - 29/07/2022, 20:53 WIB

KOMPAS.com - Peredaran obat palsu masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Hal ini tidak hanya meresahkan, tetapi bisa berdampak buruk bagi masyarakat.

Sebab, jika dikonsumi akan berakibat fatal bagi tubuh dan bila penjualannya beredar meluas dan sulit terkontrol, akan melemahkan perekonomian.

Lantas bagaimana cara agar kita terhindar dari penggunaan obat palsu?

Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Endang Lukitaningsih, menjelaskan obat palsu adalah obat yang diproduksi oleh orang atau lembaga yang tidak memiliki izin produksi.

Baca juga: Telur Puyuh Mengandung Kolesterol Tinggi? Ini Penjelasan Dosen IPB

Selain itu, obat yang tidak layak edar atau kadaluwarsa yang dijual kembali juga termasuk kedalam obat palsu.

“Konsumsi obat palsu ini tentunya berbahaya bagi tubuh karena belum teruji efektivitasnya secara medis dan bisa jadi mengandung bahan yang berbahaya,” jelasnya dilansir dari laman UGM.

Maraknya peredaran obat palsu di pasaran seolah sulit dibedakan obat asli. Kendati begitu, terdapat sejumlah perbedaan yang bisa ditemukan antara keduanya. Berikut ciri-ciri obat palsu.

1. Tablet mudah hancur

Endang menyebutkan salah satu ciri dari obat palsu adalah tablet mudah hancur, terkadang juga bantat. Kondisi itu terjadi karena obat palsu diproduksi dengan kualitas berada di bawah standar yang semestinya.

Baca juga: Amankah Mengonsumsi Telur Mentah? Ini Kata Pakar IPB

2. Bentuk fisik dan kemasan berbeda

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.