Kompas.com - 03/11/2016, 20:08 WIB
Calon mahasiswa yang berniat kuliah di Belanda wajib punya mental baja agar siap menghadapi segala tantangan. M LATIEF/KOMPAS.comCalon mahasiswa yang berniat kuliah di Belanda wajib punya mental baja agar siap menghadapi segala tantangan.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com – Sebelum melanjutkan studi ke Belanda, sebaiknya calon mahasiswa mengetahui dulu serba-serbi perkuliahan dan kehidupan di sana. Pengetahuan ini sangat diperlukan untuk beradaptasi dengan sistem dan standar pendidikan serta kultur setempat. Yakin sudah siap tempur?

Dari sisi akademik, misalnya, bahasa pengantar di kelas menggunakan bahasa Inggris. Jadi, pelajar Indonesia yang mau melanjutkan kuliah ke Belanda sudah pasti harus mempertajam kemampuan bahasa ini agar tak tertinggal di kelas.

"Saat pertama kali belajar akuntasi dalam bahasa Inggris di kelas, saya tak mengerti sama sekali," ungkap Nadia Rachma Pratiwi yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan sarjana di Saxion University of Applied Sciences kepada Kompas.com, Rabu (12/10/2016).

Keadaan semakin tidak menguntungkan, lanjut Nadia, karena saat itu tak ada mahasiswa lain di kelasnya yang sama-sama asal Indonesia.

"Kalau saya bertanya dalam bahasa Inggris (kepada teman sekelas), ya sama saja saya tidak mengerti," ucap perempuan asal Yogyakarta ini.

Selain soal bahasa, tantangan juga datang dari perbedaan metode pengajaran. Mahasiswa di Belanda harus mampu mengungkapkan pendapat secara terbuka dalam kelas. Hal ini diamini oleh Recruitment Manager Holland International Study Center, Janine Reeves.

"Perkuliahan di Belanda lebih interaktif, berbeda dengan sistem yang biasa ditemui mahasiswa (Indonesia). Diskusi dan partisipasi aktif mahasiswa di kelas merupakan hal biasa di Belanda," ucap Reeves saat dihubungi Kompas.com via e-mail, Selasa (1/11/2016).

M LATIEF/KOMPAS.com Mahasiswa di Eropa dituntut mampu belajar secara mandiri.

Tantangan semakin meningkat jika mahasiswa mengambil jurusan yang berbeda dengan latar belakang pendidikan sebelumnya. Misalnya, mahasiswa jurusan ilmu sosial yang dulu mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam di sekolah menengah atas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengalaman di atas pernah dialami alumnus Stenden University of Applied Sciences, Belanda, Nick Silvester Turang.

"Saya harus belajar hal-hal baru mengenai ilmu sosial dalam situasi dan kondisi yang masih belum terlalu familiar saat itu," kata Nick, lewat wawancara tertulis, Selasa (28/10/2016).

Siap-siap

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.