Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Petak Umpet dan Perkembangan Kemandirian Anak

Kompas.com - 17/09/2018, 09:17 WIB
Permainan Petak Umpet ThinkstockPermainan Petak Umpet

Anak harus menentukan dengan cepat, karena waktu terbatas, biasanya maksimum 30 detik. Keberanian juga terbentuk karena anak mau tidak mau harus tidak terlihat, persembunyian makin sempurna bila tempatnya semakin sempit dan semakin gelap.

Dalam jangka waktu tertentu, bisa sampai setengah jam seperti kasus saya ketiduran di atas, anak sendirian di tempat persembunyian, berusaha untuk tidak bergerak dan bersuara supaya semakin susah ditemukan.

Penelitian tentang petak umpet

Rupanya Shirah Vollmer, profesor psikiatri dari University of California juga setuju dengan dugaan saya. Menurutnya, anak sangat menyukai permainan Petak-umpet karena tiga hal.

Pertama anak ingin bersembunyi mendorong anak untuk lebih otonom, mereka ingin mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya dan ingin membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya sendiri.

Kedua ketika sudah bersembunyi mereka ingin dicari, ingin ditemukan. Ada perasaan menegangkan, menguji adrenalin ketika lawan bermain mulai mencari-cari dimana dirinya sembunyi. Perasaan senang kemudian muncul ketika ditemukan.

Ketiga anak kemudian belajar bahwa interaksi sosial bisa terputus, ketika salah satu
orang yang disayangi hilang atau terpisah. Namun situasi itu hanya sementara, karena pada akhirnya yang dicari dan yang mencari bisa bertemu kembali.

Dalam permainan petak-umpet, situasi terpisah (separation) dan pertemuan (reunification) ini terjadi berulang-ulang mengajarkan anak bahwa suatu saat bisa berpisah dengan orang terdekatnya, namun hal ini tidak untuk selamanya. Karena pada saatnya akan bertemu kembali.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal positif dalam Ciluk-Ba...

Satu hal yang saya rasakan adalah ketika anak saya dengan cepat bisa beradaptasi ketika berangkat sekolah tidak harus diantar sampai ke depan kelas, atau mau ikut bus jemputan sekolah tanpa harus diancam ini-itu, meski awalnya merengek kalau diantar harus sampai depan kelas.

Pada bayi, sampai dengan usia 18 bulan, permainan petak-umpet ini dinamakan permainan
ciluk-ba. Menurut Prof. Vollmer permainan ini juga memiliki efek positif sama.

Otak bayi berbeda dengan otak anak-anak. Bayi memproses informasi secara temporer. Semua hal yang tidak dia lihat, dia dengar, atau dia rasakan akan dianggap tidak ada, hilang. Bayi menganggap sesuatu itu ada hanya ketika dia lihat.

Begitu pula dalam permainan ciluk-ba. Wajah Ibu yang tiba-tiba tertutup dipersepsikan bayi bahwa Ibu hilang, tidak ada lagi disitu (separation). Beberapa detik kemudian “Baaa..” wajah Ibu muncul kembali (reunification).

Ketika permainan ini sering dilakukan. Bayi akan terbiasa bahwa tidak setiap saat ayah atau bunya ada di depannya. Kalau tidak ada faktor lain yang mempengaruhi (misalnya lapar, buang air, atau merasa sakit), kemungkinan bayi menangis akan menurun ketika ditinggal (Ciluuk..) orangtuanya sebentar.

Sebaliknya bayi akan merasa aman, bahwa tidak lama lagi orangtuanya akan muncul lagi. Baaa…

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.