Kompas.com - 19/09/2018, 17:37 WIB
Guru-guru Sumba Barat Daya dan Sumba Timur membagikan pengalaman mereka dalam Temu INOVASI di Kemendikbud (13/9/2018) Dok. INOVASI Guru-guru Sumba Barat Daya dan Sumba Timur membagikan pengalaman mereka dalam Temu INOVASI di Kemendikbud (13/9/2018)

KOMPAS.com - Sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Kelompok kerja Gerakan Literasi Nasional dibentuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan literasi dikelola unit-unit kerja terkait. Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) yang merupakan kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australia juga sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional.

Belajar literasi untuk daerah 3T

 

Fokus program ini adalah peningkatan mutu hasil pembelajaran siswa Indonesia di jenjang pendidikan dasar, dengan berupaya menemukan cara-cara yang terbukti berhasil meningkatkan hasil belajar literasi siswa di daerah, baik itu kemampuan literasi baca-tulis dan literasi numerasi.

Pemerintah memberikan arahan bahwa pembangunan dimulai dari daerah pinggiran yang tertera dalam dalam sembilan agenda prioritas atau Nawacita. Daerah tersebut didefinisikan oleh pemerintah mencakup 122 Kabupaten/Kota yang dikenal dengan daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 kabupaten berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk empat kabupaten yang ada di sedaratan Pulau Sumba di mana INOVASI melaksanakan programnya. Kemendikbud pun berupaya melakukan pembangunan di daerah 3T dengan terus meningkatkan layanan pendidikan di daerah tersebut, termasuk membangun sumber daya manusia (SDM).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tantangan pendidikan di Sumba

Pemerintah melihat kebutuhan pembelajaran di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dalam menyusun program pendidikan. Mendikbud juga mengimbau pegiat literasi turut menangani siswa di wilayah pinggiran. Tujuannya, agar siswa di daerah tersebut memiliki kemampuan setara dengan teman sebayanya di daerah lain dalam hal tingkat penguasaan literasi.

Di Sumba, NTT, analisis situasi komprehensif tahun 2016 yang dilakukan oleh program kemitraan untuk Pengembangan Kapasitas dan Analisis Pendidikan (ACDP) telah mengungkapkan sejumlah permasalahan pendidikan yang mendesak untuk segera dituntaskan di Sumba.

Analisis tersebut mempresentasikan berbagai bukti akan kondisi yang terjadi Sekolah Dasar di Sumba yang menggarisbawahi tingginya angka mengulang kelas di kelas 2, yakni, kisaran 12-21% di seluruh kabupaten. Selain itu, sekitar 30% murid kelas 2 mengalami kesulitan membaca.

Permasalahan siswa kelas awal 

Situasi ini tentu sangat mendesak untuk segera dituntaskan karena siswa di kelas awal yang kurang bisa membaca cenderung akan mengalami ketertinggalan pelajaran pada kelas-kelas berikutnya.

Baca juga: Literasi Media dan Kabar Bohong yang Beredar Cepat

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.