Kisah Inspiratif 2 Guru Membantu Anak Lamban Membaca di Perbatasan

Kompas.com - 08/12/2018, 13:37 WIB
Zuliawati Ninggsih, Guru SDN 004 Malinau Kota, Kabupaten Malinau membimbing anak yang lamban membaca dengan menggunakan kartu huruf. Penggunaan metode ini dinilai berhasil membantu anak lebih cepat membaca.Dok. Inovasi Kaltara Zuliawati Ninggsih, Guru SDN 004 Malinau Kota, Kabupaten Malinau membimbing anak yang lamban membaca dengan menggunakan kartu huruf. Penggunaan metode ini dinilai berhasil membantu anak lebih cepat membaca.

KOMPAS.com - Tawa dan canda anak pecah di sudut ruang. Mereka asik bermain bermain kartu huruf bersama guru. Permainan ini mereka lakukan sepulang jam sekolah.

Inilah cara Zuliawati Ningsih dan Elok Tri Lestari membantu anak-anak lamban membaca agar segera terampil. Mereka menyediakan layanan dari tapal batas negeri, agar anak bangsa bisa membangun mimpi masa depannya.

Zuliawati Ninggsih (32 tahun) terlihat sibuk menunjukkan berbagai kartu bergambar. Ia sedang melakukan tes kemampuan membaca kepada anak-anak di kelasnya.

Dengan menunjukkan karta bergambar binatang atau buah-buahan ditempeli nama huruf depan atau nama dari buah dan binatang tersebut, Zuliawati mengidentifikasi level kemampuan membaca anak-anak di awal tahun pembelajaran.

Mendapat bantuan khusus

Zuliawati sudah 7 tahun menjadi guru. Dia mengajar di Kabupaten Malinau. Daerah ini berbatasan langsung Serawak, Malaysia. Sejak jadi guru, Zuliawati ditugaskan mengajar di kelas awal.

Zuliawati merancang alat sederhana untuk mendeteksi kemampuan membaca anak. Alat itu berupa kartu huruf dan kata. Ide itu Ia dapat setelah mendapat berbagai pelatihan literasi kelas awal.

”Satu-persatu anak yang baru masuk sekolah, saya minta membaca kartu huruf dan kartu kata. Dari sana saya bisa mengindentifikasi mana anak yang butuh bimbingan khusus,” terangnya.

Baca juga: Kaltara, Kawal Tapal Batas Indonesia lewat Kolaborasi Literasi

Ia membimbing anak-anak di kelasnya sesuai dengan kemampuan membaca yang didapatnya dari tes bermain kartu tersebut.

“Anak yang belum mengenal huruf tidak bisa diajari mengeja. Jadi saya ajari mereka mengenal huruf dulu. Sementara anak-anak yang sudah belajar mengeja saya sodori kartu-kartu bergambar yang berisi kata,” ujarnya.

Zuliawati sadar betul, anak-anak belum bisa membaca itu harus mendapat bantuan khusus. Ia tidak bisa hanya mengandalkan jam pembelajaran.

Sudut baca tumbuhkan minat

 

Ia juga menemukan beberapa orangtua siswa tidak bisa membaca. Sehingga tidak mungkin Ia mengandalkan orangtua sepenuhnya untuk membantu anak membaca. “Saya harus meluangkan waktu tambahan untuk membantu anak-anak ini,” tukas lulusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD).

Sepulang sekolah, Zuliawati melakukan bimbingan khusus. Ia memberikan layanan itu secara sukarela. Setiap hari selama 20 menit, anak-anak yang lamban membaca dilatih membaca dengan berbagai metode.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X