Kompas.com - 08/01/2019, 11:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Tak terasa satu tahun telah berlalu sejak saya mulai kuliah S1 di Australian National University (ANU). Setumpuk bacaan dan tugas membuat saya tidak begitu sempat melakukan refleksi mendalam tentang pengalaman belajar di Australia dan implikasi dari pengalaman tersebut.

Beberapa minggu terakhir setelah masa libur kampus tiba, barulah saya sempat mendalami apa yang terjadi selama satu tahun hidup saya yang luar biasa ini.

Saya menyadari bahwa selain melalui kelas, kuliah di ANU memperkenalkan secara tidak langsung filosofi dan praktik pendidikan tinggi Australia itu sendiri. Melalui tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman dan observasi tentang saya pendidikan tinggi di Australia.

Saya berharap melalui pengalaman saya yang tak seberapa, para pembaca tetap dapat membandingkan, mempertimbangkan, dan mungkin mempertanyakan praktik dan aspek dari bidang pendidikan tinggi di tanah air.

O-Week, pengenalan kampus tanpa senioritas

Masa orientasi studi dan pengenalan kampus ANU berlangsung selama seminggu mulai dari 12 Februari 2017. Namun, pengenalan kampus yang dilakukan di ANU amat berbeda dari apa yang biasa kita lihat di Indonesia.

Kegiatan pengenalan kampus atau O-Week dibuka dengan acara induksi sampai dengan commencement speech oleh Brian Schmidt, Vice-Chancellor ANU yang menandakan dimulainya semester satu.

Memang semua kegiatannya bersifat tidak wajib alias suka-suka kita mau hadir ke suatu sesi atau tidak, meskipun direkomendasikan untuk datang di sesi tertentu. Saya perhatikan, semua kegiatan bersifat edukatif dan profesional. Tidak ada acara atau instruksi "aneh-aneh".

Para mahasiswa baru diperlakukan sepantasnya orang dewasa. Tidak ada kesenjangan dengan para senior, bahkan mereka hadir untuk membantu administratif kegiatan seperti menyambut di pintu, membantu mengurus hal yang berkaitan dengan IT, bagi-bagi merchandise, dan berbagi pengalaman.

Llewellyn Hall, tempat sesi induksi undergraduate ANU

Ilustrasi. Llewellyn Hall, tempat Induksi Mahasiswa BaruDok. Pribadi Kevin Marco Tanaya Ilustrasi. Llewellyn Hall, tempat Induksi Mahasiswa Baru

Pengalaman ini membuat saya berpikir tentang kegiatan orientasi yang dilakukan di perguruan tinggi di tanah air.

Mengapa desain pengenalan kampus di Indonesia cenderung jauh berbeda dengan negara lainnya? Tak jarang saya membaca berita tentang "kejanggalan- kejanggalan" yang terjadi saat pengenalan kampus di negara tercinta.

Padahal menurut saya, tujuan pengenalan kampus sejatinya ialah untuk memperkenalkan kampus, presentasi dan tur diadakan oleh para staf universitas dan departemen rasanya cukup.

Nah, jika tujuan O-Week adalah untuk melatih disiplin dan kesopanan, pengenalan kampus di Indonesia terasa tak sejalan dengan tujuannya.

Saya tidak merasa ada korelasi antara menuruti perintah-perintah yang bisa jadi nyeleneh dengan pengembangan disiplin dan etika akademik mendasar seperti kejujuran dan ketepatan waktu.

Di sisi lain, saya juga meragukan dalih bahwa pengenalan kampus bertujuan untuk mengajarkan hormat dan solidaritas angkatan. Tentu tak ada salahnya menghormati orang yang lebih tua, namun apakah senior universitas harusnya dipertuakan?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.