Kompas.com - 08/01/2019, 11:05 WIB
Ilustrasi. Perpustakaan di ANU Dok. Pribadi Kevin Marco TanayaIlustrasi. Perpustakaan di ANU

Umur senior-junior rata-rata hanya berbeda tipis (kecuali jika senior pengenalan kampus kebetulan "terlalu betah" kuliah).

Kesan perbedaan pengalaman serta asam garam pun, rasanya dapat diabaikan. Bisa jadi, bukan hormat dan solidaritas yang muncul. Melainkan memupuk dendam kesumat, yang kemudian dilampiaskan kepada para junior berikutnya.

Nampaknya ruang untuk menerapkan praktik dan filosofi dari Australia dalam hal pengenalan kampus cukup terbuka. Jika tidak, janganlah terkejut jika kita terus membaca berita tentang kejanggalan-kejanggalan ketika pengenalan kampus di Indonesia.

Bagi siapa pun yang bilang bahwa kejanggalan-kejanggalan ini hanyalah kejadian terisolasi yang bersumber dari a few bad apples, ada baiknya membaca tentang Stanford Prison Experiment.

Pedagogi berbasis tanggung jawab dan critical thinking

Ketika masih di SMA, saya selalu diwanti-wanti oleh guru bahwa nanti di universitas, "Enggak ada lagi yang nyuapin kamu!"

Guru-guru penulis bicara dalam konteks perguruan tinggi Indonesia, tapi perkataan mereka juga tepat untuk ANU. Sebagai international student, saya wajib mengambil 4 mata kuliah per semester, masing-masing berharga 6 unit.

Rata-rata murid di ANU dapat lulus dengan gelar Bachelor setelah dapat 144 unit (atau sekitar 3 tahun). Namun, karena saya ambil gelar ganda dengan system flexible double degree, saya harus menyelesaikan 240 unit atau sekitar 5 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Masing-masing mata kuliah penulis hanya butuh 3-5 jam kuliah tatap muka per minggu, sampai-sampai ibu saya bertanya apakah saya benar-benar kuliah. Namun, tidak berarti bahwa datang ke kelas saja cukup.

Untuk melahap semua mata kuliah, saya membutuhkan minimal 6 jam studi independen di luar jam perkuliahan, bahkan seringkali lebih. Konsisten dengan pandangan ANU bahwa melihat setiap mahasiswa adalah orang dewasa, dengan sistem flipped classroom ini ANU mencoba mendorong rasa tanggung jawab pribadi atas nilai dan pendidikan setiap muridnya.

Akan tetapi, ini tak berarti bahwa mereka boleh cuek. Semua jenis lecture (kelas besar) direkam dan dapat ditonton kembali untuk revisi.

Dosen dan tutor selalu siap dan datang tepat waktu, plus sangat terbuka untuk pertanyaan dan diskusi baik didalam maupun di luar jam kelas. Keterbukaan para dosen dan tutor amat terkait dengan keinginan ANU untuk mendorong pemikiran kritis.

Tentu ujian tengah dan akhir semester yang menonjolkan hafalan masih ada. Namun, mayoritas pembelajaran didesain untuk memberi insentif bagi para murid untuk mengembangkan argumen yang kritis dan original.

Mayoritas tutorial (kelas kecil) diisi dengan adu pikiran baik antara para murid atau antara murid dengan dosen. Tentu dengan dibimbing daftar bacaan dan topik yang didiskusikan di lecture. Menurut saya, cara pendidikan seperti ini amatlah memperkaya dan mendidik.

Suasana perpustakaan di ANU

Lagi-lagi ada ruang yang cukup luas bagi beberapa perguruan tinggi di Indonesia untuk mengambil inspirasi dari ini. Filosofi dan sistem yang mendorong dan menghargai rasa tanggung jawab pribadi atas pendidikan serta pemikiran kritis dan original sangatlah berguna dibandingkan filosofi "hafal mati".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.