Eduversal dan Upaya Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Abad 21

Kompas.com - 30/06/2019, 12:32 WIB
Eduversal menggelar wokshop Development of Teaching Proficiency bagi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kepada 250 guru dari 10 sekolah di Indonesia yang diselenggarakan di sekolah Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, 24-29 Juni 2019. Dok. EduversalEduversal menggelar wokshop Development of Teaching Proficiency bagi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kepada 250 guru dari 10 sekolah di Indonesia yang diselenggarakan di sekolah Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, 24-29 Juni 2019.

KOMPAS.com - Education Universal (Eduversal), lembaga konsultasi manajemen pendidikan, menggelar wokshop "Development of Teaching Proficiency" bagi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang di selenggarakan di sekolah Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, 24-29 Juni 2019.

Selain tuan rumah sekolah Kharisma Bangsa, pelatihan guru MGMP ini diikuti 250 guru dari 10 sekolah berbagai provinsi Indonesia antara lain; Kesatuan Bangsa (Yogyakarta), Pribadi Depok dan Bandung), Semesta Bilingual School (Semarang), Fatih Bilingual School (Banda Aceh), Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School (Banda Aceh) dan Rancamaya Boarding School (Bogor).

Training guru MGMP Eduversal menghadirkan 11 mentor guru dari berbagai negara seperti Amerika, Inggris, Kanada dan Polandia untuk saling berbagi pratik baik pengajaran di era berbasis teknologi dan digital.

Perubahan paradigma 

"Saat ini peran guru tidak bisa lagi hanya menjadi pengajar di depan kelas karena generasi milenial saat ini sangat mudah memperoleh berbagai informasi dari telpon genggam mereka," jelas Muhammed Bayrack Direktur Universal sekaligus Koordinator Pelatihan MGMP.

Baca juga: Program Pintar: Semangat Perubahan lewat Pembelajaran HOTS

Pihaknya melihat guru menjadi agen perubahan dalam perbaikan kualitas pembelajaran di sekolah. "Jika kualitas guru baik, maka pendidikan akan menjadi lebih berkualitas dan hal ini akan memberi dampak luar biasa bagi pembangunan bangsa ini," lanjutnya.

Ia menerangkan menghadapi era teknologi tidak cukup hanya dengan menghadirkan gadget atau gawai di dalam di kelas.

"Bukan seperti itu yang dimaksud pembelajaran berbasis teknologi. Yang justru harus dibangun adalah bagaimana siswa menggunakan gadget-nya sebagai tools (alat). Siswa harus didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi namun harus mampu menghasilkan beragam inovasi untuk menjawab segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat," tegasnya.

Melalui pelatihan guru bidang studi ini, guru diajak mengubah peran di kelas dari sekadar sumber informasi menjadi sumber inspirasi dan mendorong siswa menguasai soft skill yang dibutuhkan Era Revolusi Industri 4.0: kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaborasi serta kemampuan komunikasi. 

Praktik baik pembelajaran

Dalam pembelajaran tersebut para trainer berbagi praktik baik pembelajaran di negaranya. Salah satunya metode "blended learning" atau kolaborasi lintas ilmu dalam pembelajaran yang disampaikan Marcin Stanowski dan Krzysztof Strzemeski, keduanya trainer asal Polandia.

"Hasil pengamatan kami, blended learning antara pembelajaran sains dan bahasa Inggris justru memberikan hasil positif kepada siswa. Kami melihat siswa yang belajar STEM (science, technology, engineering and math) dalam bahasa Inggris memperoleh hasil jauh lebih baik daripada siswa yang belajar menggunakan bahasa Ibu (nasional)," ujar Krzysztof Strzemeski.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X