Sophia, Robot Berbasis Kecerdasan Buatan Akankah Menggantikan Manusia?

Kompas.com - 17/09/2019, 16:40 WIB
Youth Dialogue yang digagas CSIS Global Dialogue 2019 dan GK-Plug and Play Indonesia mengangkat tema Who Wants to be Friends with AI?  di Jakarta (17/9/2019). DOK. ISTIMEWAYouth Dialogue yang digagas CSIS Global Dialogue 2019 dan GK-Plug and Play Indonesia mengangkat tema Who Wants to be Friends with AI? di Jakarta (17/9/2019).

KOMPAS.com - Artificial Intelligence ( AIatau kecerdasan buatan seharusnya hadir dan berkembang guna membantu meningkatkan kualitas hidup dan bukan menggantikan peran manusia sebagai pengambil keputusan sekaligus sumber inovasi.

Hal ini mengemuka dalam forum Youth Dialogue yang digagas CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Global Dialogue 2019 mengangkat tema "Who Wants to be Friends with AI?"  di Jakarta (17/9/2019).

Acara dihadiri dari 500 kalangan muda berlatar belakang pebisnis pemula, akademisi, politikus serta para mahasiswa dan pelajar. Forum yang digelar GK-Plug and Play Indonesia (GK-PnP) dan CSIS ini kian menarik dengan kehadiran Sophia the Robot.

Perkenalkan, Sophia robot berbasis AI

Sophia, robot berbentuk manusia berbasis kecerdasan buatan ( artificial intelligence atau AI) tampil perdana tahun 2016 merupakan inovasi Hanson Robotics dan mampu berekspresi, berkomunikasi, hingga bergurau seputar tema tertentu layaknya manusia.

Baca juga: Mungkinkah Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Buatan Diterapkan?

Dalam dialog bersama Wesley (Managing Partner dari GK-PnP Indonesia), Sophia yang sempat mendengar GK-PnP telah mengakselarasi lebih dari 50 perusahaan rintisan berkata, “Tampaknya menarik. Kamu dapat merekrut robot seperti saya untuk bekerja dengan anda.”

Saat ditanya bagaimana AI membantu dunia startup, sambil tersenyum Sophia menjelaskan, “AI dapat digunakan dalam berbagai cara, sebagai contohnya AI dapat membantu memprediksi market trends sehingga startup dapat memusatkan perhatian mereka pada hal-hal yang terpenting.”

Wesley mengatakan, “Kehadiran Sophia diharapkan menjadi pengingat sekaligus inspirasi, jika kecerdasan buatan tengah berkembang sedemikian pesat, memasuki keseharian manusia."

Di satu sisi, selain membantu manusia, memang akan menggantikan beberapa pekerjaan yang masih kita lakukan saat ini. Namun di sisi lain memunculkan pula banyak kesempatan bagi kita untuk mengeksplorasi hal baru dan berinovasi,” tambahnya.

 Lebih lanjut Wesley mengatakan inovasi adalah keharusan dan dapat berlangsung dengan dukungan passion.

“Perusahaan rintisan hanya akan sukses karena dorongan kuat dalam sosok para pelakunya. Teknologi seperti kecerdasan buatan adalah alat yang dapat membantu itu semua, bukan mengantikannya," tegas Wesley.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X