Digitalisasi Naskah Kuno, Filolog Perlu Terlibat Aktif

Kompas.com - 18/09/2019, 08:08 WIB
Naskah kuno berisi ajaran Islam koleksi Museum Sonobudoyo. Teks itu unik karena disertai ilustrasi sementara seni rupa saat itu masih sangat tabu dalam islam. Monika NovenaNaskah kuno berisi ajaran Islam koleksi Museum Sonobudoyo. Teks itu unik karena disertai ilustrasi sementara seni rupa saat itu masih sangat tabu dalam islam.

Sebagai informasi, data yang diunggah ke dalam situs tersebut merupakan koleksi Perpustakaan Nasional yang digitalisasi sejak 2012. Sayangnya, pada 2016 data-data digital tersebut mengalami gangguan sehingga sebagian besar koleksi digitalnya menghilang.

Kualitas data belum optimal

Kualitas foto sebagai data visual web Khastara pun masih perlu ditingkatkan. Ia pun membandingkan dengan data visual yang dimiliki laman eap.bl.uk yang memiliki resolusi tinggi, sehingga kualitas foto akan tetap baik meski diperbesar.

Sebagai informasi, British Library memiliki Endangered Archives Programme (EAP) untuk melestarikan naskah-naskah kuno, utamanya di Asia dan Afrika.

Lewat program EAP, British Library membiayai digitalisasi naskah-naskah di kawasan Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Sejak 2006 hingga 2019, ia melanjutkan, ada 17 proyek digitalisasi naskah Indonesia yang mendapat bantuan program tersebut.

Salah satu naskah yang mendapat bantuan program adalah manukrip Pangeran Madrais yang menjadi koleksi Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan.

“Sejak jaman penjajahan Belanda, naskah itu memang tertutup untuk dunia luar. Barulah pada 2017, koleksi naskah yang merupakan warisan pendiri Sunda Wiwitan itu bisa dilakukan digitalisasi,” katanya.

Data naskah yang dipublikasikan eap.bl.uk juga dilengkapi dengan metadata yang ringkas, seperti jumlah halaman, jenis huruf, bahasa yang digunakan, serta waktu penulisan atau penyalinan naskah.

Munawar Holil menambahkan, metadata koleksi laman Khastara memang perlu diperbaiki secara bertahap.

“Harus ditinjau lagi, web Khastara ini ditujukan untuk siapa. Bila untuk masyarakat umum ya sudah baik, tetapi kalau untuk penelitian akademis bidang filologi, ini belum memadai. Harus ditambah dan dilengkapi data-datanya,” katanya.

Menurut dia, Perpustakaan Nasional juga bisa menyajikan informasi yang serupa dengan eap.bl.uk bila mengacu pada kajian akademis. Untuk itu, para ahli filologi memang dibutuhkan untuk melakukan pendataan.

“Saya yakin Perpusnas bisa juga menayangkan data semacam itu. Sehingga, nantinya para peneliti bisa menjadikan naskah-naskah pada laman Khastara sebagai rujukan informasi,” katanya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X