Kenali 15 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Kompas.com - 12/01/2020, 17:32 WIB
ilustrasi anak shutterstockilustrasi anak

KOMPAS.com - Anak- anak mulai PAUD hingga SMA mulai menunjukkan beragam aktivitas diri. Namun bagaimana jika aktivitasnya terlihat berbeda dengan teman sebayanya?

Bisa lebih aktif, atau justru agak terhambat. Atau anak akan menunjukkan suatu gejala kesehatan mental yang terganggu?

Karena itu, bagi para orangtua perlu mengetahui berbagai gejala gangguan mental pada anak. Harapannya, semakin dini mengenali gangguan kesehatan mental ini tentunya akan dapat segera menentukan penanganan yang tepat.

Dijelaskan laman Sahabat Keluarga Kemdikbud, gangguan mental merupakan gangguan yang terjadi dan menyerang pikiran serta kejiwaan seseorang.

Umumnya gangguan ini tidak sepenuhnya menyebabkan anak tidak sadar, namun cenderung terlambat dan mengalami beberapa kejadian yang dianggap "di luar kendali".

Baca juga: Mengenal Halusinasi dan Delusi, Gejala Gangguan Mental Psikosis

Untuk itulah orangtua sebaiknya mengetahui 15 gangguan kesehatan mental pada anak yang bisa dipelajari, di antaranya:

1. Gangguan cemas

Ini merupakan perasaan cemas yang biasa dirasakan atau dialami anak-anak. Untuk seukuran anak-anak merasa cemas adalah hal wajar, dimana mereka cenderung mengenal hal-hal yang belum mereka tahu. Untuk itu, anak yang waspada dan memiliki kecemasan merupakan hal yang baik.

Tapi bagaimana jika berlebihan dan juga terlalu ekstrim ? Hal ini sudah masuk ke tahapan gangguan mental. Dimana gangguan cemas terjadi bila anak tersebut mengkhawatirkan hal yang sebenarnya tidak ada atau tidak terjadi.

Gangguan ini biasanya terjadi karena faktor genetik hingga trauma berat akan hal-hal yang akhirnya membuat mereka takut.

2. Autisme

Autisme adalah anak-anak yang mengalami kesulitan sosialisasi, tingkah laku, bahkan berbicara dan sering disebut abnormal. Anak-anak autisme cenderung memilih untuk sibuk dengan dunianya sendiri.

Selain itu pengidap autisme termasuk anak yang sangat sulit untuk diajak fokus dan juga berinteraksi, mereka hanya menaruh fokus pada hal yang mereka sukai.

3. Retardasi Mental

Retardasi mental adalah keterbelakangan mental atau biasa disebut oligofrenia. Ini terjadi karena gangguan perkembangan intelejensia disertai mental anak yang tidak sesuai dengan usia seharusnya.

Penyebabnya bisa jadi karena proses patologis di otak yang disebabkan infeksi, racun, trauma atau gen. Gangguan ini bisa juga ditentukan oleh sikap sang anak dan juga tes IQ, namun tidak dianggap abnormal.

4. Diseleksia

Ini adalah gangguan dialami anak-anak ketika mereka tidak bisa membaca maupun kesulitan untuk menuliskan huruf dengan teratur dan berurutan. Hal ini bisa terlihat ketika mereka tidak bisa membedakan atau membaca susunan huruf dengan benar meski usianya sudah beranjak besar.

Ketika menggunakan kata atau membaca, anak diseleksia mengalami keterlambatan serta seringkali salah dalam membaca. Gangguan ini bukan berarti mereka menjadi bodoh dan mengalami penyakit fisik, namun karena informasi yang diterima otak sedikit berbeda.

5. Gangguan makan

Biasanya karena orangtua menyepelekan maka tanpa disadari anak mengalami gangguan makan, bahkan hingga usianya dewasa.

Kesulitan makan biasanya dijumpai pada pola anak yang cenderung tidak mau atau menolak untuk mengonsumsi makanan. Jika makan porsi yang dihabiskan tampak lebih sedikit dibandingkan anak-anak lainnya.

Perbedaan gangguan makan dengan anak yang sedang tidak nafsu makan umumnya hanya mempermainkan makanan, sulit mengunyah dan juga membuang makanan ketika dimasukan kemulut atau disuapi. Hal ini bukan dipengaruhi sosial.

Baca juga: Pendidikan Anak Usia Dini, Apa yang Harus Dicermati oleh Orangtua?

6. ADHD

ADHD biasa disebut sebagai Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Dalam istilah Indonesia lebih sering disebut GPPH atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas.

Gangguan ini memiliki sifat neurobihavioral dimana anak akan terasa sulit diatur, dan terkesan tidak perduli akan nasihat orang sekitar. Selain itu mereka juga tampak sulit fokus pada suatu hal. Mereka akan menyelesaikan suatu target yang ditujukan atau diharapkan dengan sulit.

7. Gangguan bipolar

Ini terjadi jika adanya perubahan mood yang berlangsung drastis tanpa ada alasan yang sangat kuat. Anak bisa menjadi terlalu gembira akan suatu hal namun bisa menjadi terlalu sedih hingga depresi dan ingin bunuh diri tanpa alasan yang pasti.

Tanda ini membahayakan terutama bagi mereka yang tidak tahu bagaimana pengendalian yang tepat untuk menghindari adanya perubahan mood ekstrim ini. Mereka yang menderita gangguan bipolar biasanya diredakan dengan terapis dan berbagai metode lainnya.

8. Skizofrenia

Ini biasa terjadi pada anak usia tanggung hingga masa pubertas usia 20 tahun. Skizofrenia merupakan penyakit mental yang dianggap sudah kronis dimana penyakit ini menyebabkan anak kehilangan kemampuan untuk mengetahui apakah ia sedang mengalami hal nyata atau realitas atau tidak.

Baca juga: Orangtua, Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Anak Masuk PAUD

Mereka juga merasa bahwa dengan hal-hal buruk bisa menyadarkan mereka yang sedang dihadapi adalah dunia nyata.

9. Gangguan Somatoform

Gangguan ini terjadi jika sang penderita merasakan sakit yang amat dibagian tubuhnya namun sebenarnya ia tidak menderita apapun. Bahkan jika diperiksakan ke dokter ataupun pengobatan lainnya si pengidap justru sehat-sehat saja.

Hal ini terjadi karena ilusi yang diciptakan oleh mereka sendiri, padahal mereka tidak mengalami gangguan medis.

10. Sindrom gender dan seksual

Ini memang seringkali semakin menjadi ketika dewasa dan menyebabkan banyak anak remaja justru salah kaprah dan menyimpang. Namun gangguan gender dan seksual bisa muncul sejak kecil atau sejak awal anak-anak bersosialisasi.

Hal ini cukup membahayakan dimana ia bisa bertindak diluar batasan baik norma maupun agama dan perkembangan gangguannya akan semakin parah seiring umur bertambah.

11. Sindrom respon stres

Sindrom ini terjadi bagi mereka yang memiliki pribadi sangat emosional hingga orang disektar yang ingin bersosialisasi tampak tidak bisa toleransi dengan pengidapnya.

Umumnya mereka akan mengalami sindrom ini setelah mengalami hal yang tidak diinginkan atau tidak bisa diterima dengan baik seperti perceraian, bencana alam, kematian seseorang dan lainnya.

12. Gangguan disosiatif

Hal yang paling sering terjadi yakni gangguan kesadaran terhadap diri sendiri sehingga anak sering linglung atau bingung, dan seringnya lupa akan identitas diri atau bagaimana bentuk diri mereka yang sebenarnya.

Gangguan ini berawal dari trauma yang benar-benar menimpa dan tidak bisa ditoleransi oleh mental.

13. Psikopat

Psikopat adalah hal yang paling berbahaya dalam gangguan jiwa atau gangguan mental. Mereka yang mengalami psikopat biasanya antisosial karena bisa menimbulkan kerugian dan ketakutan di masyarakat.

Orang yang memiliki gangguan mental ini tidak memiliki rasa empati. Di tengah masyarakat, psikopat seringkali dianggap pelaku kriminal dan menimbulkan masalah yang besar.

Maka ketika orangtua mengetahui salah satu anak dari kerabat atau teman yang terindikasi memiliki penyakit jiwa ini sebaiknya laporkan dan tangani dengan serius.

Baca juga: Kesehatan Mental Mahasiswa Jadi Isu Utama Global, Lalu Apa Solusinya?

14. Antisosial personality

Ini gangguan yang terjadi akibat adanya perasaan cenderung sinis, menghina dan tidak bisa menghargai orang lain. Karena hal inilah mereka tidak bisa bergaul atau menerima orang lain untuk berteman dan menjadi bagian hidup.

Orang yang memiliki kehidupan anti sosial umumnya tumbuh atau berasal dari trauma seperti bullying, ataupun asuhan yang memang sudah sejak kecil diasingkan diantara masyarakat sosialnya. Karena itulah anda sebaiknya mengetahui hal ini sejak awal agar bisa ditangani.

15. The blues

Ini adalah stilah yang biasa digunakan untuk kondisi Depresi. Dimana penderita mengalami stress dan tekanan berkepanjangan, depresi bisa berakibat pada mental dan kesadaran seseorang dan bisa berlangsung dengan waktu yang sangat lama.

Hal yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan perhatian penuh hingga menjadikan mereka anak-anak yang benar-benar mendapat pendidikan dan juga kasih sayang. Dengan begitu kemungkinan anak mengalami gangguan mental akan berkurang jauh.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X