Mendesak, Pentingnya Pendidikan Berkesinambungan PAUD, SD dan Parenting

Kompas.com - 20/01/2020, 17:46 WIB
Anak-anak sekolah Paud saat membaca buku di bemo perpustakaan saat jam istirahat di Rusun Karet Tengsin, Jakarta, Jumat (7/12/2018). Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGAnak-anak sekolah Paud saat membaca buku di bemo perpustakaan saat jam istirahat di Rusun Karet Tengsin, Jakarta, Jumat (7/12/2018). Pak Sutino (58) adalah sopir bemo yang merintis bemo tuanya menjadi perpustakaan keliling bagi anak-anak sejak tahun 2013.

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengubah struktur organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Terdapat sejumlah perubahan besar. Ada unit baru yang ia bentuk, dan ada juga yang dihapus, ataupun dilebur. Hal itu tercantum dalam Permendikbud Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kemendikbud yang ia teken akhir bulan lalu.

Salah satu perubahan tersebut adalah mengintegrasikan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke dalam Direktorat Jenderal yang menangani pendidikan dasar dan menengah. Sebelumnya, keduanya ditangani secara terpisah.

Terpisah atau terintegrasi?

Sebagian orang sepakat dengan langkah Nadiem, namun sebagian menilai bahwa pembinaan PAUD harus terpisah dengan pendidikan dasar dan menengah. Lantas mana yang lebih tepat?

Selama tiga dekade terakhir, riset tentang PAUD berkembang pesat.

Sebelum tahun 1980 penelitian tentang anak usia dini kebanyakan dilakukan oleh para psikolog perkembangan anak dibanding pakar pendidikan. Kini, riset tentang PAUD dilakukan oleh multi-profesional dan multidisiplin (Aubrey 2001; Penn 2001).

Beragam riset tentang dampak PAUD pun meruap. Mulai dari pengaruh PAUD terhadap kesiapan anak memasuki jenjang SD, dampaknya terhadap kemampuan baca tulis dan berhitung, hingga dampaknya untuk pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Bahkan, peneliti di Amerika Serikat mengungkapkan PAUD dapat mengurangi tingkat kejahatan.

Schweinhart et.al (2005) menegaskan, anak yang tidak mengikuti program PAUD berkualitas, maka pada saat usia 40 tahun, ia berpotensi lebih besar melakukan tindak kriminalitas.

Namun, PAUD tidak dapat berdiri sendiri. Dampak positifnya dapat dirasakan anak apabila ia mendapatkan pendidikan dasar yang juga berkualitas.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X