Mengintip Konsep Merdeka Belajar ala SMA Kolese Kanisius Jakarta

Kompas.com - 20/01/2020, 20:15 WIB
Siswa XII SMA Kolese Kanisius Jakarta mempresentasikan Research Paper di depan guru penguji, orangtua, siswa kelas X dan XI SMA Kolese Kanisius, dan tamu undangan di dalam kelas SMA Kolese Kanisius Jakarta, Senin (20/1/2020. Kegiatan presentasi Research Paper SMA Kolese Kanisius merupakan bagian dari acara yang bertema Merdeka Belajar: Exhibitions of Learning Experience. KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJOSiswa XII SMA Kolese Kanisius Jakarta mempresentasikan Research Paper di depan guru penguji, orangtua, siswa kelas X dan XI SMA Kolese Kanisius, dan tamu undangan di dalam kelas SMA Kolese Kanisius Jakarta, Senin (20/1/2020. Kegiatan presentasi Research Paper SMA Kolese Kanisius merupakan bagian dari acara yang bertema Merdeka Belajar: Exhibitions of Learning Experience.

KOMPAS.com - Merdeka Belajar dipandang sebagai passion untuk menggali suatu ilmu yang berangkat dari kepedulian melihat sebuah kondisi keprihatinan. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMA Kolese Kanisius Jakarta, Pater Drs. Eduard Calistus Ratu Dopo. 

"Kami definisi tentang Merdeka Belajar, sebuah passion hasrat untuk menggali sesuatu ilmu yang dari sebuah concern keprihatinan. Kami (SMA Kolese Kanisius) punya kurikulum yang kita garap," ujar Drs. Eduard saat ditemui di sela-sela acara Presentasi Research Paper di SMA Kolese Kanisius Jakarta, Senin (20/1/2020).

Adapun fokus isu utama pembelajaran di SMA Kolese Kanisius adalah isu lingkungan hidup, kemiskinan, toleransi antarmanusia, dan ekosistem digital.

SMA Kolese Kanisius memberikan kebebasan murid-murid untuk memilih isu-isu yang ingin dipilih dalam belajar.

"Konsep kami belajar itu adalah seluas jagat. Tapi bagaimana kita mensistemasi semua itu dengan kurikulum ini," ujar Drs. Eduard.

Dalam pembelajaran sejak kelas X, sekolah memperkenalkan tema-tema untuk tugas akhir berdasarkan fokus isu SMA Kolese Kanisius.

Baca juga: Terapkan Merdeka Belajar, SMA Kolese Kanisius Jakarta Presentasikan Research Paper

Penilaian murid-murid SMA Kolese Kanisius, lanjutnya, adalah berbasis perpaduan ilmu pengetahuan dan survei karakter.

"Empat itu arah. Kami memberikan frame dan arah. Itu persoalan lingkungan dan kemiskinan adalah universal. Sekolah kami kan berbasis humanistik bukan agama," ujarnya.

SMA Kolese Kanisius menerapkan kurikulum 2013 dengan penyesuaian dengan nilai-nilai lokal sekolah. SMA Kolese Kanisius, kata Drs. Eduard, tetap mengikuti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan mengadopsinya ke dalam kebutuhan yang ingin dicapai.

"Di luar tahap ujian nasional, kami merdeka. Kami kembangkan portofolio pembelajaran.
UN itu hanya memembani belajar. Padahal pembelajaran itu harus gembira," tambah Drs. Eduard.

Menurutnya, Kolese Kanisius memiliki pedagogi (strategi pembelajaran) dalam mendidik. Kolese Kanisius menerapkan pedagogi Ignatian berupa Konteks, Pengalaman, Refleksi, Aksi, Evaluasi, dan kembali ke siklus awal.

"KTSP ini rambu-rambu saja. Di dalam kami mengolahnya sendiri. Kami siap Merdeka Belajar. Dengan metode pembelajaran itu sudah lengkap prosesnya," ujarnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X