Kompas.com - 01/03/2020, 08:40 WIB

Memang sesekali kita melihat potret kepanikan penduduk Singapura yang memborong bekal makanan dan masker, tetapi itu hanya sebentar.

Semenjak PM Lee mengisyaratkan bahwa all supplies – termasuk makanan dan kebutuhan kesehatan – dijamin tetap tersedia di berbagai grocery store, penduduk Singapura lantas tenang kembali.

Singapura sedang melalui sebuah tahapan proses menjadi bangsa yang sangat siap dengan bencana seperti layaknya Jepang senantiasa siap menghadapi gempa bumi dan tsunami.

Silakan cari di channel Youtube mengenai CCTV footage di dalam gedung-gedung saat gempa-gempa besar melanda Jepang.

Tak ada mass histeria, tak ada commotion dalam jumlah masif yang menggambarkan orang-orang berebut keluar dari pintu gedung atau gambaran kekacauan di tangga darurat.

Masyarakat Jepang sudah sangat teredukasi soal ini: kepanikan hanya akan memperhebat kekacauan dan memperkecil peluang selamat.

Singapura, seperti Jepang, telah memenangkan berbagai ‘perang’ terhadap banyak bencana dan wabah, karena– meski telah menang ‘perang’ – mereka tak berhenti belajar, tak berhenti membuat terobosan baru, suatu protokol atau mekanisme tindakan yang akan dilakukan bila suatu kejadian bencana terjadi kembali di masa mendatang.

Bagaimana dengan kita di negeri nak keren ini?

Ooo, tunggu dulu, saya tidak sedang membahas soal virus corona ini.

Apakah kita bangsa yang gemar belajar dan bertumbuh?

Terus terang saja, saya takut mempertanyakan hal di atas bahkan kepada diri saya sendiri. Apakah saya yakin bahwa saya sangat peduli pada progress apapun yang membantu saya melalui jalan setapak menuju masa depan?

Seperti bangsa-bangsa lain, Indonesia tak terhindar dari berbagai masalah dan bencana. Dari yang paling rutin: wabah demam berdarah, liarnya peredaran narkoba, bencana alam tanah longsor, gempa bumi dan banjir, lemahnya pengawasan yang menyebabkan menjamurnya korupsi.

Yang rada berat: turbulensi politik setiap menjelang pilkada atau pemilu, turbulensi ekonomi sebagai imbas turbulensi ekonomi regional atau global, kebakaran hutan-hutan, dan demo-demo terkait ketenagakerjaan.

Lalu, apakah yang sudah kita pelajari? Apakah kita sudah membangun suatu protokol, suatu mekanisme ‘jaga diri’, atau suatu kebijaksanaan yang memampukan bangsa kita ini melalui apapun masalah itu?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.