Kompas.com - 29/04/2020, 15:07 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

Jadi, sampaikan secara spesifik apa kesalahannya, seperti "buku-bukumu berantakan" atau “handuk belum diletakkan di tempatnya”.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

2. Terima perasaannya

Membuat kesalahan atau kegagalan bukanlah situasi mudah bagi anak, begitu pula bagi orangtua bila mengalaminya.

Bila anak terlihat kesal, sedih, atau kecewa atas kesalahan yang ia buat, dengar dan terima perasaannya terlebih dahulu, agar ia merasa didukung untuk berbuat yang lebih baik.

Misalnya, dengan berkata "Ibu mengerti sulitnya kerjakan banyak tugas" atau "Ayah mengerti kamu sedih saat tak bisa dapat nilai sempurna".

Barulah lanjutkan dengan memberinya semangat untuk lebih baik.

3. Gunakan kata "seandainya"

Saat anak kesulitan mengerjakan tugas atau mendapatkan nilai tak sesuai ekspektasi, hindari untuk merendahkan harga diri anak, seperti "kok segitu saja enggak bisa? Si A saja bisa, lho" atau "kamu sih malas belajar".

Pilihlah kata-kata yang dapat menciptakan efek positif di masa mendatang.

Misalnya, "andai kamu enggak ragu-ragu tanya kepada guru, lebih mudah mengerjakan tugasnya, ya Nak!" atau "seandainya lebih sering berlatih soal, bisa dapat hasil lebih baik."

4. Bantu anak pahami bahwa kesalahan bukan untuk dihindari tetapi diperbaiki

Mengajarkan anak untuk terbiasa dan tidak malu mengakui kesalahan akan membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang terus memperbaiki diri. Bukan sebaliknya, menjadi pribadi yang gengsi mengaku salah bahkan menimpakan kesalahan pada orang lain.

Baca juga: Pesan Mahasiswa Brawijaya yang Sembuh dari Covid-19: Corona Bukan Aib

Untuk itu, langkah terpenting selanjutnya ialah bantu anak memahami bahwa kesalahan harus diakui, bukan dihindari, dan bisa diperbaiki.

Caranya, jadilah orangtua yang juga mampu mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Misalnya dengan berkata, "Ayah juga dulu sering menunda-nunda PR, tapi jadi repot sendiri dan malu diingatkan terus sama guru. Akhirnya, kerjakan sedikit-sedikit, lama-lama beres juga."

Intinya, agar anak menjadi pribadi yang lebih baik, kuncinya bukan bagaimana orangtua mendidik anak agar sama sekali tak lakukan kesalahan. Melainkan ajarkan anak bagaimana mengakui dan memperbaiki kesalahan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X